Jayapura – Organisasi mahasiswa Katolik, PMKRI Cabang Jayapura, melontarkan kecaman keras terhadap insiden penembakan warga sipil yang terjadi di wilayah Puncak, Papua Tengah.
Peristiwa tersebut dinilai sebagai bukti kegagalan negara dalam memberikan perlindungan terhadap masyarakat sipil di wilayah konflik. PMKRI menegaskan bahwa tindakan kekerasan terhadap warga sipil tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun.
Ketua PMKRI Jayapura menyebut insiden tersebut telah mencederai nilai-nilai kemanusiaan dan memperlihatkan situasi yang semakin memprihatinkan di Papua. Ia menilai pendekatan keamanan yang dilakukan selama ini belum mampu menjamin keselamatan masyarakat.
“PMKRI cabang Jayapura menilai tindakan ini mencederai prinsip kemanusiaan dan menunjukkan wajah represif negara di Tanah Papua,” ujar Christo, Jumat (17/4/2026).
PMKRI juga mendesak agar seluruh bentuk penembakan terhadap warga sipil segera dihentikan. Mereka meminta pemerintah untuk mengevaluasi pendekatan penanganan konflik dan mengedepankan perlindungan terhadap masyarakat.
Desakan ini muncul di tengah meningkatnya kekerasan di wilayah Papua Tengah, khususnya di daerah seperti Puncak yang kerap menjadi lokasi konflik bersenjata. Dalam sejumlah laporan, warga sipil sering kali menjadi korban dalam situasi tersebut.
Selain itu, PMKRI meminta adanya langkah konkret untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang. Mereka menilai perlu adanya pendekatan yang lebih humanis dan dialogis dalam menyelesaikan konflik di Papua.
Kasus ini kembali menambah daftar panjang insiden kekerasan di Papua yang melibatkan warga sipil. Berbagai pihak kini menuntut adanya perlindungan yang lebih kuat serta penegakan hukum yang transparan dan adil.





