EditorialTribute to 'Black Brothers' : Antara Cinta, Rasa dan ke-Indonesiaan

Tribute to ‘Black Brothers’ : Antara Cinta, Rasa dan ke-Indonesiaan

Must read

Oleh Frans Pigome, Official Manager ‘Black Brothers’

Kata Kahlil Gibran : “Musik adalah bahasa roh. Musik membuka rahasia hidup yang membawa perdamaian, dan menghapus perselisihan.” “Musik adalah wahyu yang lebih tinggi dari semua kebijaksanaan dan filosofi,” demikian kata Ludwig van Beethoven. Kata saya : ‘Musik adalah tarian Jiwa; yang memantulkan seluruh ekspresi diri sekaligus energi semesta yang menjadi obat bagi jiwa, hati dan pikiran.” Musik itu ‘magis’ membawa kita pada ‘pengalaman’ tak terdefinisikan. Musik adalah ekspresi universal manusia; melampaui sekat bahasa, agama, suku, budaya bahkan perbedaan politik.

Getaran tarian jiwa itu jugalah yang menyihir saya setiap kali mendengar alunan lagu ‘Black Brothers’; sebuah band asal tanah Papua Era 1970-an hingga 80-an yang sempat menggetarkan belantika musik tanah air. Saya adalah penggemar setianya sejak era tersebut sampai saat ini. Di antara lagu-lagunya yang hits kita mengenal : Kisah Seorang Pramuria, Hari Kiamat, dan Sajojo. Dua di antaranya yang terkenal berbahasa Papua ‘Saman Doye, Huembello” dan beberapa lagu lainnya.

Di bawah asuhan tangan dingin sang manajer Andi Ayamiseba, Black Brothers melengkapi band yang sudah terkenal pada masa itu seperti d’Mercys, Panbers, Koes Ploes, SAS, dan God Bless. Di antara personelnya kita mengenal nama Hengky Mirontoneng Sumanti (Vokal, lead gitar), Yochie Pattipeiluhu (keyboard), Benny Bethay (gitar bass), Stevie Mambor (Drummer), David Rumagesang a.k.a Dullah Yunus (Saxophone) dan Amri Kahar (Trumpet, Saxophone). Dalam perjalanannya kemudian bergabung pula Agust Rumaropen (gitar) dan Sandi Bethay (Vokal).

Apa yang membuatnya juga punya karakter adalah betotan bass yang kenes, suara saxphone yang tebal, desahan di awal lagu, mempertegas aroma funk rock yang pada masa itu masih kurang populer. Dari sisi tematik lagu, Black Brothers memanggungkan pesan-pesan sosial yang kontekstual, mulai dari situasi Papua yang pada masa itu di bawah cengkeraman militer, perang Vietnam, kelaparan di Ethiopia, perang Pasifik, juga tentang nuklir. Black Brothers juga berhasil mempengaruhi banyak band-band muda di Papua. Selepas Black Brothers, muncul band-band seperti Black Papas, Black Sweet, Black Power, juga Black Family. Black Brothers telah menjelma menjadi legenda music tanah air, legenda music tanah Papua.

Baca Juga  Dalam Laporannya, Amerika Serikat Tegaskan Ancaman Rasisme Terhadap Natalius Pigai dan Rakyat Papua

Tribute to Black Brothers

Kisahnya yang menggetarkan jiwa, membangkitkan emosi, mengolah rasa dan cinta hingga kini terekam kuat dalam diri para penggemarnya. Sekian dekade, Black Brothers sudah saatnya dipanggungkan kembali; bukan hanya untuk mengobati rasa rindu para penggemarnya, melainkan menghidupkan kembali cita rasa dan cinta dalam setiap karya-karyanya. Pun cita, karsa, rasa dan cinta itu tentang -Keindonesiaan yang sedang menjemput abad ke-emasannya di tahun 2045 nanti. Tribute to Black Brothers adalah sebuah ikhtiar untuk memanggungkan semangat, spirit yang terkandung dalam setiap karya-karyanya untuk bisa mengiringi perjalanan bangsa Indonesia dan juga tanah Papua.

Karya-karyanya bukan saja tentang citarasa musik tetapi pesan-pesan sosial yang dari kedalaman hatinya juga tentu mengangkat harkat dan martabat Orang-orang Papua serta memberi pengaruh positive pada peradaban masyarakat Papua di Tanah Papua. Saya yang mengikuti perjalanan bermusik ‘Black Brothers’ merasakan betul bagimana mereka mencintai Tanah Papua dan Indonesia melalui lagu-lagunya.

Apa yang tersisa untuk mengenang semua itu adalah memanggunkan mereka kembali di tempat terhormat sebagai bentuk apresiasi. Dari sana pula  generasi saat ini menimba semangatnya, bukan saja untuk bermusik tetapi juga memberi kontribusi nyata pada pembangunan nasional khususnya juga pembangunan di tanah Papua.

Saya meyakini bahwa musik adalah juga energi yang bisa menyatukan setiap perbedaan baik politik, suku, agama, maupun budaya. Di tengah gejolak sosial masyarakat baik Indonesia maupun situasi sosial politik di tanah Papua, musik adalah karya jiwa yang mempersatukan, mendamaikan serta membangkitkan energi untuk terus maju dalam kehidupan. Seperti bagian awal saya katakan, musik itu adalah ekspresi yang sangat universal melampaui sekat-sekat agama, suku, maupun budaya. Itulah juga kenapa konser ini kami angkat pada tema sentral mengenai ‘Keindonesiaan’ karena kami yakin musik adalah energi positif yang bisa menyatukan seluruh energi anak bangsa ini untuk maju dan berkembang.

Baca Juga  RUU TPKS Disahkan, Christina Aryani : Apresiasi Perjuangan Perempuan Indonesia

Bagaimana Indonesia Emas 2045 bisa kita wujudkan, tidak lain dan tidak bukan dengan semangat persatuan; semangat persaudaraan; semangat kebersamaan; semangat kolaboratif dan semangat kekeluargaan. Dan persis pada semangat inilah Black Brothers menghadirkan karya-karya musiknya, yaitu menghadirkan energi untuk Bersatu, Bangkit dan Menjadi Pemenang dalam Kehidupan. Itulah juga kenapa Konser Musik ini melibatkan banyak musisi papan atas tanah air seperti Iwan Fals, Edo Kondologit, Nowela, Soendari Soekotjo dan nama-nama lainnya, untuk memberi suntikan energi kebersamaan dan kolabiratif ini. Iwan Fals dan Edo Kondologit yang kaya dengan pesan sosial kemasyarakatan telah banyak mengiringi perjalanan bangsa ini melalui karya-karyanya. Iwan berteriak tentang keadilan selama bertahun-tahun. Demikian juga Edo untuk tanah Papua yang dicintainya.

Kebersamaan musisi-musisi ini dengan ciri khas budaya dan musik yang berbeda-beda adalah sebuah kolaborasi menarik yang membawa pesan persatuan itu. Pertama-tama, kolaborasi ini memiliki potensi untuk menciptakan fusi budaya yang menakjubkan. Black Brothers membawa elemen khas budaya Papua, sedangkan Iwan Fals dikenal dengan lirik-liriknya yang mendalam yang menggambarkan realitas sosial Indonesia. Gabungan kekuatan ini dapat menghasilkan suara unik yang mencerminkan identitas budaya yang kaya dan beragam di Indonesia. Fusi musik dari dua daerah berbeda ini akan menarik bagi pendengar, membawa kesegaran dan keragaman dalam industri musik Indonesia.

Selanjutnya, kolaborasi ini dapat berperan sebagai jendela untuk meningkatkan kesadaran akan isu-isu sosial di Papua. Iwan Fals adalah seorang penyanyi-penulis lagu yang terkenal karena kemampuannya menggugah perasaan dan pikiran melalui lirik-liriknya. Kolaborasinya dengan Black Brothers dapat membawa isu-isu penting yang dihadapi masyarakat Papua ke panggung nasional dan internasional melalui lirik-lirik yang kuat dan penghayatan emosional yang tinggi. Hal ini akan membuka mata masyarakat tentang tantangan yang dihadapi oleh masyarakat Papua dan mendorong dialog yang lebih luas untuk solusi yang adil. Kolaborasi ini juga dapat menjadi jembatan untuk mempromosikan persatuan dan toleransi di Indonesia. Dengan bersatunya dua budaya yang berbeda dalam musik, dengan sendirinya kebersamaan, persaudaraan, dan perdamaian akan menjadi lebih kuat. Hal ini akan mengirimkan pesan penting bahwa Indonesia adalah negara yang bangga dengan keanekaragaman budayanya, dan bahwa musik adalah bahasa universal yang bisa mempersatukan orang-orang dari segala latar belakang. Musik Persatuan itu juga yang menjadi perekat di antara sekat-sekat pembeda itu.

Baca Juga  Politik Jakarta Pecah Belah Papua Soal DOB

Selain itu melalui kolaborasi ini, Black Brothers dapat mendapatkan eksposur yang lebih luas baik di tingkat nasional maupun internasional. Iwan  yang memiliki basis penggemar yang besar dan dihormati di seluruh Indonesia, dan keterlibatan Black Brothers dalam kolaborasi ini akan membuka pintu bagi mereka untuk memperkenalkan musik dan budaya Papua kepada khalayak yang lebih besar. Hal ini juga akan mengangkat profil Black Brothers di kancah musik Indonesia, memberikan mereka pengakuan yang lebih besar dan mempromosikan kekayaan budaya Papua ke seluruh dunia. Secara keseluruhan, kolaborasi antara Black Brothers dan Iwan Fals memiliki potensi besar untuk membawa perubahan positif dalam dunia musik Indonesia. Lebih dar itu dengan fusi budaya yang menakjubkan, kesadaran atas isu-isu sosial, pesan persatuan, dan eksposur yang lebih luas, kolaborasi ini dapat menjadi tonggak penting dalam memajukan musik dan budaya Indonesia secara menyeluruh. Mereka tidak hanya menjadi contoh sinergi musik yang sukses, tetapi juga perwujudan dari keindahan dan kekayaan budaya Indonesia yang harus dihargai dan dirayakan. Kalau musik itu adalah tarian jiwa, maka konser ini adalah tarian jiwa tentang -Keindonesiaan, tentang Papua yang rindu hidup damai, adil, Bersatu, dan jadi pemenang dalam kehidupan. Cinta, Karsa, dan Rasa yang dihadirkan oleh musik dan lagu-lagu Black Brothers menjadi kesempatan kita untuk juga menghadirkannya dalam setiap pikiran, karya dan tindakan-tindakan kita, Cinta, Karsa dan Rasa untuk Indonesia dan Tanah Papua yang lebih baik. Sampai jumpa di Konser ‘Tribute to Black Brothers’ di Jakarta, 4 Mei 2024.***

Anda dapat membaca berbagai berita-berita teraktual kami di platform Google News.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest