JAYAPURA – Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB OPM) mengaku bertanggung jawab atas kematian tiga Orang Asli Papua (OAP) di Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua Pegunungan.
Pernyataan tersebut disampaikan TPNPB pada Kamis (23/7/2026).
Dalam keterangannya, kelompok tersebut mengklaim ketiga warga Papua itu tewas karena dituding memberikan informasi kepada pihak intelijen Indonesia.
TPNPB menyebut ketiganya sebagai pengkhianat terhadap gerakan kemerdekaan Papua. Namun, tudingan tersebut merupakan klaim dari pihak TPNPB dan belum dapat diverifikasi secara independen.
TPNPB Klaim Punya Bukti
Dalam pernyataan yang disampaikan, TPNPB mengklaim memiliki bukti bahwa ketiga warga tersebut telah memberikan informasi yang menurut mereka berkontribusi terhadap kematian sejumlah anggota TPNPB.
Atas dasar tudingan tersebut, TPNPB mengaku melakukan tindakan kekerasan terhadap ketiga warga tersebut di wilayah Yahukimo.
Kelompok tersebut juga menyampaikan bahwa tindakan itu dimaksudkan sebagai peringatan kepada masyarakat Papua agar tidak bekerja sama atau berkonfrontasi dengan kelompok mereka.
TPNPB bahkan menyatakan akan mengambil tindakan terhadap siapa pun yang mereka anggap terlibat membantu aparat keamanan Indonesia.
Personel Brimob Juga Disebut Jadi Korban
Selain tiga warga sipil OAP, TPNPB juga mengklaim bertanggung jawab atas kematian seorang personel Brimob Indonesia.
Klaim tersebut muncul di tengah konflik bersenjata yang masih berlangsung di sejumlah wilayah pegunungan Papua.
Sementara itu, aparat keamanan Indonesia dan kelompok TPNPB telah terlibat dalam konflik kekerasan yang berlangsung cukup panjang. Dalam beberapa tahun terakhir, eskalasi konflik dilaporkan meningkat di sejumlah kabupaten di wilayah dataran tinggi Papua.
Sebelumnya, Pilot Asing Juga Tewas
TPNPB juga mengaitkan pernyataannya dengan tewasnya seorang pilot berkewarganegaraan Amerika Serikat, Nicholas Gosselin.
Kelompok tersebut mengklaim pilot itu menjadi korban setelah menerbangkan pesawat kecil ke wilayah Yahukimo pada awal Juli 2026.
TPNPB menyatakan sebelumnya telah memberikan peringatan kepada warga asing agar tidak melakukan penerbangan ke kawasan tersebut.
Wilayah tersebut disebut sebagai daerah yang dianggap memiliki tingkat konflik tinggi dan menjadi zona perang aktif oleh pihak tertentu.
Tudingan terhadap Perusahaan Penerbangan Dibantah
TPNPB sebelumnya menuding perusahaan tempat Nicholas Gosselin bekerja, yang menerbangkan pesawat untuk PT AMA, membantu mengangkut personel militer Indonesia.
Namun, tudingan tersebut telah dibantah oleh pihak perusahaan maupun pemerintah.
Situasi ini menambah kekhawatiran terhadap perkembangan konflik bersenjata di wilayah pegunungan Papua.
Sejumlah pihak sebelumnya juga mendorong agar semua pihak yang terlibat dalam konflik mengedepankan dialog dan penyelesaian secara damai. Selain itu, muncul pula desakan agar kasus-kasus kekerasan, termasuk kematian warga sipil dan pilot asing, dapat diselidiki secara independen dan transparan.
Hingga Kamis (23/7/2026), konflik bersenjata di sejumlah wilayah Papua masih menjadi perhatian serius karena berisiko mengancam keselamatan masyarakat sipil serta mengganggu aktivitas pelayanan publik, transportasi, pendidikan, dan kesehatan.





