Jayapura — Launching Persipura Jayapura untuk menyambut kompetisi Liga 2 musim 2026/2027 berlangsung meriah. Namun, di balik kemeriahan itu, masih ada satu pertanyaan yang mengganjal di hati sebagian suporter: di mana dukungan PT Freeport Indonesia untuk Persipura?
Pertanyaan tersebut disampaikan Ketua Black Danger Community (BDC) Persipura 1963, Jansen Previdea Kareth.
Jansen mengaku menyambut positif launching tim Persipura, jersey terbaru, dukungan para sponsor, hingga peluncuran buku Persipura dari Masa ke Masa yang digelar pada Minggu (30/8/2026).
Launching Persipura tersebut dilakukan secara serentak di sejumlah daerah, yakni Sorong, Timika, Jayapura, Yogyakarta, dan Jakarta.
Bagi Jansen, momen tersebut menjadi sesuatu yang sudah lama dinantikan oleh para pencinta Persipura dan masyarakat Papua.
“Bagi kami, ini adalah acara yang dikemas begitu meriah. Menjadi penantian serta kerinduan bagi seluruh fans, pendukung setia, dan masyarakat Tanah Papua di musim yang baru ini,” kata Jansen melalui pesan singkat, Senin (31/8/2026).
BDC Apresiasi Manajemen Persipura
Jansen mengatakan BDC 1963 tetap memberikan apresiasi kepada manajemen Persipura, mulai dari komisaris, direktur utama, hingga ketua umum.
Ia secara khusus memberikan penghargaan kepada Presiden Direktur Nusantara Cenderawasih Karsa (NCK), Owen Rahadiyan, yang dinilai masih setia mengawal dan mendukung Persipura menghadapi Liga 2 musim 2026/2027.
Namun, setelah memberikan apresiasi, Jansen juga menyampaikan catatan kritis terkait dukungan sponsor.
Menurutnya, ada satu nama yang semestinya tidak boleh luput dari perhatian, yakni PT Freeport Indonesia.
“Saya ingin memberikan masukan sebagai catatan kritis kepada Pak Toni Wenas selaku Direktur Presiden PT Freeport Indonesia. Pak Toni Wenas harus tahu bahwa Persipura ini identitas bagi orang Papua,” ujarnya.
Jansen melihat Persipura bukan sekadar klub sepak bola. Bagi masyarakat Papua, Persipura dianggap sebagai salah satu simbol yang selama ini membawa nama Papua di panggung sepak bola Indonesia bahkan hingga ke luar negeri.
“Kenapa Freeport Tidak Ada di Jersey Persipura?”
Pertanyaan Jansen semakin tajam ketika melihat jersey terbaru Persipura yang diperkenalkan dalam launching tersebut.
Ia mempertanyakan mengapa logo PT Freeport Indonesia tidak terlihat sebagai sponsor Persipura musim ini.
Menurut Jansen, Freeport sudah puluhan tahun beroperasi di Tanah Papua dan mengambil manfaat dari kekayaan sumber daya alam Papua. Karena itu, ia berharap ada bentuk dukungan nyata kepada Persipura sebagai klub sepak bola yang lahir dari Tanah Papua.
“Aneh, puluhan tahun PT Freeport beroperasi dengan mengeksploitasi kekayaan sumber daya alam Tanah Papua, dari Kontrak Karya pertama 1976 sampai saat ini. Tetapi tidak memberikan dukungan atau sponsor bagi Tim Persipura di Liga 2,” katanya.
Jansen juga menyinggung alasan yang selama ini disebut menjadi pertimbangan tidak adanya sponsor, salah satunya karena Persipura masih bermain di Liga 2.
Selain itu, pemekaran wilayah Papua juga dinilai membuat posisi administratif berubah. Freeport kini berada di wilayah Provinsi Papua Tengah, sementara Persipura berada di Provinsi Papua.
Bagi Jansen, alasan tersebut tidak semestinya menjadi penghalang.
Enam Provinsi Boleh Terpisah, Persipura Tetap Menyatukan Papua
Jansen menilai pemekaran wilayah secara administratif tidak otomatis menghilangkan ikatan emosional masyarakat Papua terhadap Persipura.
Menurut dia, Persipura justru menjadi salah satu simbol yang mampu menyatukan masyarakat Papua dari berbagai wilayah, baik pesisir, lembah maupun pegunungan.
“Sekalipun pemerintahan di Tanah Papua sudah dibagi menjadi enam provinsi, namun tak dapat mengubah rasa cinta, harga diri, dan nama Persipura jauh lebih tinggi di atas segala-galanya bagi orang Papua,” katanya.
Karena itu, Jansen berharap logo Freeport bisa hadir di jersey Persipura sebagai bentuk dukungan kepada klub asal Tanah Papua tersebut.
Ia juga membandingkan dukungan Freeport kepada Persipura dengan dukungan perusahaan tersebut terhadap Timnas Indonesia.
Jansen menyebut Freeport memberikan dukungan dalam jumlah besar kepada Timnas Indonesia. Di sisi lain, Persipura yang berasal dari daerah tempat Freeport beroperasi justru disebut tidak mendapatkan dukungan sponsor.
“Saya menganalogikan seperti hujan emas di luar Tanah Papua, tapi hujan batu di atas Tanah Papua,” ujarnya.
Jansen bahkan meminta Presiden Prabowo Subianto memperhatikan persoalan tersebut dan mendorong adanya komunikasi dengan pihak terkait.
Menurutnya, tidak adanya dukungan Freeport kepada Persipura sejak musim 2025/2026 hingga 2026/2027 menjadi sesuatu yang menyakitkan bagi para pendukung Mutiara Hitam.
Suporter Kecewa Tidak Diberi Ruang Bicara
Selain persoalan sponsor, Jansen juga mengaku kecewa karena suporter tidak diberikan ruang untuk menyampaikan kritik dan saran dalam acara launching Persipura di salah satu hotel di Kotaraja, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Provinsi Papua, pada Minggu (30/8/2026).
Padahal, kata dia, kritik tersebut bukan untuk menjatuhkan manajemen.
BDC 1963 hanya ingin menyampaikan masukan sebagai bentuk kepedulian terhadap Persipura.
“Bagi kami dari BDC 1963, tidak ada sesuatu yang lebih berharga dalam hidup ini selain setia, dan loyal untuk Persipura sampai selamanya. Sampai akhir hayat di kandung badan. Persipura satu hati, satu tujuan,” kata Jansen.
Persipura Masuk Grup Timur Liga 2
Pada Liga 2 musim 2026/2027, Persipura Jayapura tergabung di Grup Timur.
Mutiara Hitam akan bersaing bersama Barito Putera, PSBS Biak, Persis Solo, Persela Lamongan, Deltras FC, RANS FC, Persiba Balikpapan, Kendal Tornado FC, dan de RED FC.
Untuk musim ini, Persipura didukung sejumlah sponsor, yakni Bank Papua, Kopi Kapal Api, Ulam Laut, Jelas Lebih Berani, Saga Grup, dan Mitra Orphys Sports Clinic.
Persipura juga telah memperkenalkan 35 pemain untuk menghadapi kompetisi musim 2026/2027.
Daftar 35 Pemain Persipura 2026/2027
Penjaga gawang:
Rendy Oscario, Adzib Al Hakim Arsyad, Andika Wisnu Pradipta, Yeremia Meraudje.
Pemain belakang:
Marthin Alesandro Dusay, Sukandar Rumidi Kansai, Israel Wamiau, Ricardo De Lima, Ruben Karel Sanadi, Yustinus Pae.
Pemain tengah:
Bima Ragil Satria, Ian Louis Kabes, Markus Otto Alberti Madjar, Gunansar Papua Mandowen, Todd Rivaldo Alberth Ferre, D. Febrianto M. Uopmabin, Yetter Amohoso, David Muller, Elisa Yahya Basna, Ramai Melvin Rumakiek, Yohanes Ferinando Pahabol, Gelfias Yance Waicang, Reno Salempessy.
Pemain depan:
Boaz Theofilus Erwin Solossa, Alexandro Dos Santos Ferreira, Lazarus Anthonius Wilem Sinim, Jeam Kelly Sroyer, Rafael Sunuk, Ricky Ricardo Cristian Cawor, Miquel Alfrado Djimenes, Michael Alberth Kambu, Tonci Shouter Israel Ramandei, Beton Kogoya, Agus Petu Rumbourusi, Pilipus Sibetai.
Bagi para pendukung Persipura, musim baru bukan hanya soal pertandingan dan posisi di klasemen. Ada harapan agar Mutiara Hitam kembali menjadi kebanggaan Papua sekaligus mampu berbicara lebih jauh di kompetisi nasional.





