BIAK NUMFOR – Operasi pencarian korban ledakan bom peninggalan Perang Dunia II di kawasan Kompleks Ikan, Kabupaten Biak Numfor, masih terus dilakukan. Pada hari keenam pasca-kejadian, Sabtu (6 Juni 2026), tim gabungan kembali menemukan 17 potongan tubuh manusia yang diduga berasal dari para korban ledakan.
Tim gabungan yang terdiri dari personel TNI, Polri, Basarnas, dan sejumlah instansi terkait langsung mengevakuasi seluruh temuan tersebut untuk diserahkan kepada Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Papua. Selanjutnya, potongan tubuh itu akan menjalani proses identifikasi guna memastikan identitas masing-masing korban.
Kapolres Biak Numfor, AKBP Ari Trestiawan, mengatakan bahwa fokus utama petugas saat ini adalah menemukan seluruh korban yang masih belum teridentifikasi sekaligus mengusut penyebab pasti ledakan yang terjadi pada 31 Mei 2026 lalu.
Menurutnya, area utama atau Ring Satu lokasi kejadian telah dinyatakan steril sepenuhnya. Meski demikian, masyarakat tetap diminta untuk tidak mendekati lokasi demi alasan keselamatan serta untuk mendukung kelancaran proses pencarian dan penyelidikan yang masih berlangsung.
Selain menemukan potongan tubuh manusia, petugas juga mengamankan sejumlah barang yang diduga milik korban.
Di antaranya kartu keluarga atas nama Luther Raubabah, telepon genggam, proyektor, bor listrik, dompet, tas, mixer, hingga potongan besi yang ditemukan di sekitar lokasi ledakan.
Sementara itu, Tim DVI Polda Papua telah memeriksa total 34 potongan jaringan tubuh yang ditemukan selama operasi pencarian berlangsung. Dari pemeriksaan tersebut, enam sampel DNA berhasil diperoleh dan akan dikirim ke Laboratorium DNA Bareskrim Polri untuk membantu proses identifikasi korban secara ilmiah.
Di lokasi yang sama, Tim Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) juga menemukan sedikitnya 21 serpihan logam yang diduga berkaitan dengan sumber ledakan. Petugas turut menemukan beberapa peralatan kerja seperti mata gergaji, gagang gergaji besi, dan mata gerinda dalam radius sekitar 50 meter dari pusat ledakan.
Untuk mendalami penyebab insiden tersebut, aparat turut mengamankan sejumlah barang bukti lain berupa tiga unit perahu, dua kompresor lengkap dengan perlengkapannya, mesin tempel, jaring, perlengkapan selam, hingga sabuk pemberat yang ditemukan di sekitar lokasi kejadian.
AKBP Ari menegaskan seluruh barang bukti yang berhasil dikumpulkan akan diperiksa secara mendalam oleh penyidik dan tim laboratorium forensik. Langkah ini dilakukan untuk mengungkap secara jelas kronologi dan penyebab ledakan bom peninggalan Perang Dunia II yang menimbulkan banyak korban tersebut.
Di sisi lain, Kasi Ops Basarnas Biak Numfor, Andarias Alik, menyebut operasi pencarian dan pertolongan (SAR) saat ini memasuki tahap akhir. Namun, masa operasi masih dapat diperpanjang apabila terdapat pertimbangan dari pemerintah daerah maupun permintaan keluarga korban.
Hingga Sabtu, 6 Juni 2026, seluruh korban luka dilaporkan telah mendapatkan penanganan medis dan menjalani rawat jalan. Pemerintah daerah bersama unsur terkait juga terus memberikan pendampingan melalui posko yang telah disiapkan untuk membantu para korban dan keluarga yang terdampak oleh tragedi tersebut.





