ScoopDPR RI Minta Pengakuan Bupati Merauke Soal Bayar DPR untuk DOB Diusut

DPR RI Minta Pengakuan Bupati Merauke Soal Bayar DPR untuk DOB Diusut

Must read

Jakarta, Mambruks.com-Anggota Komisi II DPR Mardani Ali Sera menegaskan agar pengakuan Bupati Merauke Romanus Mbaraka perihal membayar sejumlah uang kepada anggota DPR RI untuk loloskan DOB, perlu diusut lebih dalam.

“Ini perlu diinvestigasi,” ujar Mardani saat dikonfirmasi, Kamis (14/7).

Mardani menegaskan, tidak boleh transaksi dalam pemekaran sebuah daerah. Dalam sebuah pemekaran, kata dia, semua dijadikan kepentingan nasional sebagai patokan.

“Tidak boleh ada bayar-membayar dalam perkara pemekaran daerah. Semua jadikan kepentingan nasional sebagai patokan,” tegasnya.

Mardani sendiri mengaku sama sekali tidak mengetahui adanya upaya pembayaran yang dilakukan oleh Bupati Merauke Romanus Mbaraka terhadap anggota DPR tersebut. “Saya tidak tahu sama sekali,” pungkasnya.

Baca Juga: Natalius Pigai Minta KPK Proses Hukum Bupati Merauke dan Oknum Anggota DPR RI Terkait Dugaan Suap Revisi UU Otsus dan DOB Papua

Sebelumnya, Bupati Merauke Romanus Mbaraka mengaku, DOB Papua terbentuk saat ini karena upaya-upaya lobi yang dia lakukan kepada beberapa tokoh di DPR RI; yaitu dua nama anggota DPR RI Dapil Papua yaitu Yan Mandenas dan Komarudin Watubun.

Kata Romanus dia membayar sejumlah uang untuk meloloskan pasal pada revisi UU Otsus yaitu kewenangan Pemekaran Provinsi di Papua ditarik menjadi kewenangan pemerintah pusat.

“Tahun 2020 Pak Yan Mandenas anggota DPR RI mengubungi saya. Kaka Rob, ini saatnya KK harus all out. Harus habis-habisan supaya provinsi ini jadi. Hari ini saya bicara demi nama Tuhan dan atas nama leluhur kasih tau perjalanan saya. Dan saya sudah janji ini provinsi harus jadi,” demikian pernyataan Romanus seperti dikutip Mambruks.Com dari video yang diunggah di YouTube Y.S Papua Channel, Kamis (14/7).

Baca Juga  Politikus Nasdem Sebut DOB Papua Angkat Harkat OAP

Baca Juga: Bupati Merauke Mengaku Bayar Anggota DPR RI Loloskan DOB: Natalius Pigai Minta Presiden Tidak Tanda Tangani UU Pemekaran Papua

Selanjutnya masih kata Romanus, dia lalu menemui Yan Mandenas dan Komarudin Watubun dan beberapa tokoh di Jakarta lalu mengeluarkan sejumlah uang yang besarannya tidak spesifik disebutkan Romanus.

“Setelah itu saya pergi ke Pa Yan Mandenas, ke Pak Komarudin Watubun saya dekati semua yang ada di DPR, bayarannya itu yang mahal. Kalau saya sebut angka, KPK tangkap saya nanti. Saya harus bayar mahal,” sambung Romanus.

Biaya dan loby yang dilakukan Romanus punya maksud tertentu yaitu bagaimana mengubah pasal pada UU No 21 tentang Otsus Papua yang intinya agar kewenangan melakukan pemekaran ditarik ke pemerintah pusat.

“Jadi awalnya saya harus rubah pasal di mana saya harus yakinkan untuk kewenangan provinsi ditarik ke pemrintah pusat tidak cuma persetujuan MRP, DPRP, bahkan gubernur. Itu dasarnya. Bermainlah saya di situ seperti pancing ikan. Akhirnya pasal itu diubah begitu UU Otsus direvisi,” kata Romanus menambahkan.

Proses berjalan, masih menurut Romanus, saat pasal tersebut berhasil diubah maka di situ ada tambahan bahwa untuk mengusulkan sebuah provinsi baru di Provinsi Papua maka bisa dilakukan oleh pemerintah pusat sehingga tidak tergantung pada MRP, DPRP dan Gubenur tapi ditarik langsung ke pemerintah pusat berdasarkan usulan langsung masyarakat di daerah.

“Nah dengan usulan kita yang sudah bertahun tahun langsung diproses dan jadi. Itu ceritanya. Kami berjuang setengah mati. Rasanya urat mau putus putus begitu. Karena semua pakai biaya, pakai ongkos. Itu cerita bagaimana provinsi jadi,” pungkasnya.

Anda dapat membaca berbagai berita-berita teraktual kami di platform Google News.

More articles

1 KOMENTAR

  1. Lagi² keinginan/kehendak manusia yang dilakukan di atas tanah ini…sungguh benar pesan / nubuatan yang telah disampaikan oleh Pdt. I.S. Kijne.
    “Biarkan Tuhan menyenggara, dan melindungi hidup mu. Ketika tiba gara², bahaya hendak menempuh…dst”

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest