PAPUA – Konflik yang terus terjadi di Papua kembali bikin banyak orang bertanya: sebenarnya siapa yang paling menderita dari semua ini? Jawabannya hampir selalu sama, yaitu masyarakat sipil yang harus hidup di tengah rasa takut, kehilangan keluarga, sampai kehilangan rasa aman di kampung sendiri.
Dalam berbagai insiden konflik bersenjata di Papua, warga biasa sering jadi pihak yang paling terdampak. Ada yang harus mengungsi, kehilangan pekerjaan, terganggu sekolahnya, bahkan jadi korban kekerasan di tengah situasi yang nggak mereka pilih.
Banyak kalangan menilai penyelesaian konflik Papua selama ini terlalu fokus pada pendekatan keamanan, sementara suara korban dan masyarakat kecil belum benar-benar didengar. Karena itu, muncul dorongan supaya pemerintah, aparat, tokoh adat, tokoh agama, dan semua pihak mulai lebih mengutamakan sisi kemanusiaan dalam menyelesaikan masalah Papua.
Dialog damai juga dianggap penting banget supaya kekerasan nggak terus berulang. Soalnya, selama konflik masih terjadi, masyarakat biasa akan terus hidup dalam tekanan dan ketidakpastian. Banyak anak-anak sampai kesulitan sekolah, layanan kesehatan terganggu, dan aktivitas ekonomi warga ikut lumpuh.
Tulisan ini juga mengingatkan kalau di balik semua berita soal konflik, ada manusia-manusia yang sebenarnya cuma ingin hidup tenang di tanah mereka sendiri. Karena pada akhirnya, korban sipil nggak butuh perang narasi, mereka cuma ingin rasa aman, keadilan, dan masa depan yang lebih baik.





