MERAUKE – Tokoh perempuan adat asal Merauke, Yasinta Moiwend atau yang lebih dikenal sebagai Mama Sinta, akhirnya buka suara soal polemik film dokumenter Pesta Babi dan proyek food estate di Papua Selatan. Ia mengaku kecewa karena merasa namanya ikut terseret dalam narasi penolakan proyek pemerintah tanpa persetujuannya.
Mama Sinta mengatakan dirinya dulu sempat ikut menyuarakan penolakan terhadap pembukaan lahan di Papua Selatan bersama sejumlah kelompok pendamping dan LBH. Namun belakangan, ia merasa perjuangannya justru dimanfaatkan hingga wajah dan kisahnya muncul dalam film Pesta Babi tanpa izin langsung darinya.
“Saya kecewa sekali karena film itu dibuat tanpa sepengetahuan saya,” ungkap Mama Sinta dalam pernyataannya yang diterima media di Jakarta, Sabtu, 23 Mei 2026.
Ia juga mengaku selama mengikuti berbagai kegiatan penolakan proyek, dirinya harus bolak-balik ke Jayapura, Makassar, hingga Jakarta selama berbulan-bulan, tetapi merasa tidak mendapatkan perubahan nyata untuk kehidupan keluarganya. Menurutnya, kondisi rumahnya masih memprihatinkan dan anak-anaknya juga membutuhkan pekerjaan.
Karena itu, Mama Sinta kini memilih mendukung program Proyek Strategis Nasional (PSN) food estate di Papua Selatan. Ia berharap pemerintah dan perusahaan yang masuk bisa membantu membuka lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat adat di kampungnya.
Di sisi lain, pernyataan Mama Sinta memunculkan berbagai respons di publik dan media sosial. Beberapa pihak mempertanyakan perubahan sikap tersebut, sementara lainnya menilai masyarakat adat memang harus mendapat manfaat nyata dari pembangunan yang berjalan di Papua Selatan.
Sebelumnya, film dokumenter Pesta Babi memang sempat ramai diperbincangkan karena mengangkat isu masyarakat adat Papua Selatan yang disebut terdampak proyek-proyek besar seperti perkebunan dan food estate. Film itu juga menuai kontroversi setelah sejumlah agenda pemutaran dan diskusi dibubarkan aparat di beberapa daerah.
Meski begitu, pemerintah dan beberapa pengamat menegaskan proyek food estate di Wanam, Merauke tetap akan dilanjutkan sebagai bagian dari program ketahanan pangan nasional.





