TIMIKA – Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang digelar PT Freeport Indonesia (PTFI) di area Low Land Kuala Kencana, Senin (17/8/2026), berlangsung khidmat.
Upacara tersebut dipimpin Direktur & EVP Sustainable Development PTFI, Claus Oscar R. Wamafma sebagai inspektur upacara. Sementara komandan upacara dipercayakan kepada Iptu Abdul Hamid, Komandan Kompi 1 Batalyon B Sat Brimob Pelopor Polda Papua Tengah.
Di tengah suasana Kuala Kencana yang mendung dan sejuk, sebanyak 73 anggota Paskibra sukses menjalankan tugas mengibarkan Sang Saka Merah Putih. Penampilan mereka pun mendapat apresiasi dari para tamu undangan.
Upacara HUT RI ke-81 PTFI tidak hanya berlangsung di Kuala Kencana. Kegiatan serupa juga digelar di Tembagapura, Nabire, Smelter PTFI dan PT Smelting di Gresik, serta Kantor PTFI Jakarta.
Meski dilaksanakan di lokasi berbeda, seluruh peserta upacara terhubung secara virtual untuk mengikuti amanat Presiden Direktur PTFI, Tony Wenas, yang disampaikan langsung dari Tembagapura.
Duka GBC Jadi Pengingat
Dalam amanatnya, Tony Wenas mengajak seluruh keluarga besar PTFI menjadikan berbagai pengalaman pahit selama hampir 60 tahun perusahaan beroperasi di Tanah Papua sebagai pelajaran penting.
Salah satu peristiwa paling berat adalah insiden luncuran material basah di Tambang Bawah Tanah Grasberg Block Cave (GBC) pada 8 September 2025 yang menyebabkan tujuh karyawan PTFI meninggal dunia.
Ketujuh karyawan tersebut yakni Balisang Telile, Dadang Hermanto, Holong Silaban, Irawan, Victor Ballesteros, Wigih Hartono dan Zaverius Magai.
Tony menyampaikan penghormatan atas jasa dan pengabdian para karyawan yang telah meninggal dunia tersebut. Ia juga mengajak seluruh peserta mendoakan mereka serta memberikan dukungan kepada keluarga yang ditinggalkan.
Menurut Tony, tragedi tersebut menjadi pengingat bahwa keselamatan manusia harus berada di atas target produksi maupun pencapaian operasional.
“Setiap target produksi, setiap pencapaian, dan setiap keberhasilan operasional hanya memiliki makna apabila seluruh insan yang menjalankannya dapat kembali ke rumah dan berkumpul dengan keluarga mereka dalam keadaan selamat.”
Duka Tembagapura Juga Tak Dilupakan
Selain tragedi di tambang bawah tanah, PTFI juga menghadapi tantangan keamanan berupa sejumlah aksi penembakan di kawasan Tembagapura pada kuartal pertama 2026.
Dalam rangkaian kejadian tersebut, PTFI kembali kehilangan dua karyawan, yakni Erman Rustaman dan Simson Mulia.
Tony menegaskan, rangkaian duka tersebut harus menjadi energi untuk memperkuat budaya keselamatan atau safety di lingkungan PTFI.
Ia mengingatkan bahwa safety bukan sekadar aturan yang ditempel di tempat kerja, tetapi harus menjadi nilai yang benar-benar diterapkan dalam setiap keputusan dan tindakan.
Safety sendiri menjadi bagian dari nilai perusahaan SINCERE, yang mencakup Safety, Integrity, Commitment, Respect dan Excellence.
“Safety bukan hanya sekadar prosedur, melainkan nilai yang harus hidup dalam setiap keputusan, setiap tindakan, dan setiap cara kita bekerja,” tegas Tony.
Produksi PTFI Diproyeksikan Naik
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Tony juga menyampaikan kabar mengenai perkembangan produksi PTFI.
Kapasitas produksi PTFI diproyeksikan mencapai sekitar 65 persen pada akhir semester kedua 2026. Perusahaan menargetkan produksi sekitar 800 juta pound tembaga dan 700 ribu ounce emas.
Kapasitas produksi tersebut ditargetkan meningkat menjadi sekitar 75 persen pada pertengahan 2027, kemudian secara bertahap menuju kapasitas penuh pada akhir 2027.
Sementara itu, Smelter PTFI di Gresik disebut telah siap kembali beroperasi. Bersama Smelter PT Smelting, fasilitas tersebut akan memiliki kapasitas pemurnian sekitar 3 juta ton konsentrat tembaga per tahun.
Investasi Tambang Kucing Liar Rp72 Triliun
Pengembangan tambang bawah tanah Kucing Liar juga terus berjalan dan diproyeksikan menjadi salah satu sumber produksi utama PTFI pada masa mendatang.
Investasi yang telah digelontorkan untuk pengembangan tambang tersebut mencapai sekitar Rp25 triliun, dengan total investasi yang diproyeksikan mencapai Rp72 triliun.
Sepanjang 2025, PTFI disebut telah memberikan kontribusi kepada negara sekitar Rp75 triliun, termasuk sekitar Rp13 triliun yang menjadi bagian pemerintah Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah dan kabupaten lainnya di Papua Tengah.
Tony mengatakan, ketika PTFI nantinya mencapai kapasitas produksi 100 persen, kontribusi perusahaan kepada negara diproyeksikan dapat menembus lebih dari Rp100 triliun setiap tahun.
Bagi Tony, seluruh capaian tersebut harus berjalan beriringan dengan satu hal yang tidak boleh ditawar: setiap pekerja harus bisa pulang ke rumah dengan selamat.





