SENTANI – Ternyata nyelamatin bumi itu bisa dimulai dari hal simpel—bahkan dari apa yang ada di piring makan kita sehari-hari.
Dilansir dari SuaraPapua.com, WWF Program Papua lagi dorong aksi peduli lingkungan lewat cara yang kekinian: bikin konten medsos soal sampah makanan.
Kegiatan ini digelar di Sentani, Kabupaten Jayapura, tepatnya di Holey Nerey Learning Centre, sebagai bagian dari peringatan Hari Bumi 2026 pada 24 April 2026.
Jadi buat ngerespon isu ini, pas momen Hari Bumi 22 April 2026, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jayapura bareng Komunitas Earth Hour Jayapura dan WWF Indonesia Program Papua ngadain pelatihan bikin konten. Fokusnya spesifik banget: bahas soal sampah makanan biar makin banyak orang sadar dan peduli.
Yang bikin beda, kampanye ini nggak cuma teori doang. Peserta diajak langsung belajar bikin konten yang relate banget sama kehidupan sehari-hari—khususnya soal sampah makanan yang sering dianggap sepele, padahal dampaknya gede buat lingkungan.
FYI, sampah makanan itu ternyata salah satu penyumbang krisis iklim. Bahkan, limbah makanan bisa menghasilkan gas metana yang dampaknya lebih parah dibanding karbon dioksida.
Makanya, WWF ngajak anak muda, komunitas, sampai mahasiswa buat ikut ambil peran. Mereka dilatih supaya bisa bikin konten yang bukan cuma menarik, tapi juga punya pesan kuat soal menjaga lingkungan.
Tema yang diangkat juga unik banget: “Ko Bijak Pangan, Ko Selamatkan Bumi”—intinya ngajak semua orang lebih bijak dalam konsumsi makanan dan nggak buang-buang.
Menariknya lagi, kampanye ini memanfaatkan kekuatan media sosial. Karena sekarang, satu konten bisa nyebar luas dan ngasih pengaruh besar ke banyak orang. Jadi bukan cuma aksi kecil, tapi bisa jadi gerakan besar kalau dilakukan bareng-bareng.
Intinya, pesan dari WWF jelas:
nyelamatin bumi nggak harus nunggu jadi aktivis—cukup mulai dari hal kecil, kayak habisin makanan dan nggak buang-buang.
Dan kalau itu dikemas lewat konten medsos? Bisa jadi gerakan viral yang berdampak besar.





