PAPUA – Film dokumenter berjudul Pesta Babi karya Dandhy Dwi Laksono dan tim ini lagi ramai jadi bahan perbincangan publik. Tapi di tengah viralnya film tersebut, pihak TNI dari Kodam XVII/Cenderawasih Kolonel Inf Tri Purwanto ikut buka suara dan menilai kalau narasi dalam film itu berpotensi mengganggu keharmonisan sosial masyarakat Papua.
Menurut TNI, ada beberapa narasi dalam film itu yang dianggap terlalu tendensius dan dikhawatirkan bisa bikin suasana sosial di Papua jadi kurang adem. Jangan sampai muncul narasi sepihak yang malah bikin masyarakat bentrok pemikiran dengan program-program pemerintah. Padahal, menurut mereka, program strategis yang dijalankan di Papua tujuannya buat bantu pembangunan dan ningkatin kesejahteraan masyarakat di Tanah Papua.
Menurut pihak Kodam, Papua adalah wilayah yang punya keberagaman suku, budaya, dan kondisi sosial yang sensitif. Karena itu, mereka khawatir kalau penyampaian isu dalam film tersebut justru bisa memicu salah paham atau memperkeruh situasi di tengah masyarakat.
Film Pesta Babi sendiri disebut mengangkat sejumlah isu sensitif, mulai dari persoalan tanah adat, proyek strategis nasional, hingga kehidupan masyarakat lokal di Papua. Karena tema yang diangkat cukup berat, film ini langsung memancing banyak reaksi dari publik dan media sosial.
Pihak TNI menegaskan kalau mereka menghargai kebebasan berekspresi dan karya seni. Namun mereka juga mengingatkan supaya narasi yang dibangun tidak sampai memicu konflik baru atau memperdalam perpecahan sosial di Papua.
Di sisi lain, kontroversi film ini justru bikin banyak orang penasaran dan mulai membahas lebih luas soal kondisi sosial serta pembangunan di Papua. Ada yang mendukung film tersebut sebagai bentuk suara masyarakat, tapi ada juga yang khawatir dampaknya bisa memancing ketegangan baru.





