NABIRE – Suasana di Kantor DPR Papua Tengah mendadak penuh haru dan emosi, bro. Sejumlah warga dan keluarga korban datang sambil menangis dalam aksi yang menyoroti tragedi “Dogiyai Berdarah” yang terjadi beberapa waktu lalu di Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah.
Aksi ini jadi bentuk protes sekaligus seruan supaya kasus kekerasan yang menewaskan warga sipil di Dogiyai nggak hilang begitu aja tanpa kejelasan hukum. Banyak peserta aksi membawa tuntutan agar pemerintah dan aparat benar-benar serius mengusut kejadian tersebut secara transparan.
Konflik di Dogiyai sendiri sebelumnya memanas setelah terjadi rangkaian kekerasan pada akhir Maret 2026. Insiden itu bermula dari tewasnya seorang anggota polisi dan kemudian berkembang menjadi bentrokan yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa dari warga sipil maupun aparat keamanan.
Dalam aksi di kantor DPR Papua Tengah, massa meminta wakil rakyat dan pemerintah daerah ikut turun tangan mencari solusi damai dan mendorong investigasi independen. Banyak warga mengaku takut konflik berkepanjangan bakal terus memakan korban dan bikin masyarakat sipil jadi pihak yang paling menderita.
Nggak sedikit peserta aksi yang terlihat emosional saat menyampaikan kesaksian tentang situasi di Dogiyai. Mereka berharap tragedi seperti ini nggak terus berulang di Papua dan ada langkah nyata buat menghadirkan rasa aman bagi masyarakat.
Kasus Dogiyai sendiri sekarang jadi perhatian banyak pihak, mulai dari tokoh masyarakat, aktivis HAM, sampai organisasi internasional. Beberapa kelompok bahkan mendesak pembentukan tim investigasi independen agar fakta-fakta di lapangan bisa diungkap secara terbuka.
Di media sosial, isu “Dogiyai Berdarah” juga ramai dibahas netizen. Banyak anak muda Papua berharap konflik bisa diselesaikan lewat dialog dan pendekatan damai, bukan kekerasan yang terus meninggalkan trauma bagi masyarakat.





