WAMENA – Perayaan Hari Buruh Internasional di Tanah Papua tahun ini nggak cuma soal seremoni atau ucapan semangat. Justru jadi momen buat “nagih janji” soal Otonomi Khusus (Otsus) yang dianggap belum sepenuhnya dirasakan oleh pekerja asli Papua.
Banyak pekerja lokal merasa masih berada di posisi yang kurang diuntungkan, terutama dalam hal kesempatan kerja dan perlindungan. Padahal, Otsus seharusnya jadi jalan buat meningkatkan kesejahteraan masyarakat asli Papua, termasuk para pekerja.
Isu yang paling disorot adalah masih minimnya keterlibatan pekerja asli Papua di berbagai sektor strategis. Nggak sedikit yang merasa tersisih di tanah sendiri, sementara peluang kerja lebih banyak diisi oleh tenaga dari luar.
Politisi senior Pakalis Kosai menegaskan bahwa May Day bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan ruang refleksi atas sejauh mana kebijakan Otonomi Khusus (Otsus) benar-benar diwujudkan dalam kehidupan masyarakat Papua, khususnya di sektor ketenagakerjaan.
Selain itu, perlindungan tenaga kerja juga jadi perhatian. Mulai dari hak-hak dasar pekerja sampai jaminan kesejahteraan, masih banyak yang dinilai belum maksimal.
Momentum May Day ini akhirnya dipakai sebagai “suara bersama” buat menyampaikan aspirasi. Harapannya jelas: pemerintah bisa lebih serius memastikan Otsus benar-benar berdampak langsung, bukan cuma jadi konsep di atas kertas.
Bagi para pekerja di Papua, ini bukan sekadar peringatan tahunan—tapi perjuangan buat dapat keadilan, kesempatan yang sama, dan masa depan yang lebih layak di tanah sendiri.





