JAKARTA – Program Sekolah Rakyat di Papua makin dapat dukungan serius. Kali ini, Komite Eksekutif Pembangunan Otonomi Khusus Papua ikut turun tangan buat support penuh program ini.
Dukungan ini muncul setelah pertemuan antara Wakil Menteri Sosial, Agus Jabo Priyono, dengan perwakilan komite, yaitu Ari Sihasale dan Nia Sihasale Zulkarnaen di Jakarta.
Yang bikin tersentuh, saat mereka turun langsung ke lapangan, ada momen haru dari anak-anak Papua. Beberapa siswa bahkan sampai nangis karena akhirnya bisa sekolah lagi lewat program ini.
Soalnya, realitanya masih banyak anak di Papua yang kesulitan akses pendidikan—bahkan ada yang belum punya seragam atau fasilitas dasar. Nah, lewat Sekolah Rakyat, mereka sekarang bisa sekolah dengan fasilitas yang lebih layak, bahkan perlengkapan dasar juga disediakan.
Ari Sihasale juga menegaskan kalau mereka siap total buat bantu program ini, bahkan kalau harus masuk ke daerah pegunungan sekalipun.
Di sisi lain, pemerintah juga punya tujuan besar dari program ini. Menurut Agus Jabo, Sekolah Rakyat bukan cuma soal pendidikan, tapi strategi buat memutus rantai kemiskinan. Jadi nggak cuma anaknya yang dibantu sekolah, tapi orang tuanya juga diberdayakan, bahkan rumahnya bisa ikut diperbaiki.
Program ini juga punya pendekatan khusus, karena setiap anak punya kondisi berbeda. Kalau ada yang butuh penanganan tambahan, pemerintah siap bantu lewat fasilitas rehabilitasi sebelum mereka lanjut sekolah lagi.
Saat ini, sudah ada beberapa Sekolah Rakyat rintisan di Papua, seperti di Jayapura, Biak Numfor, Merauke, sampai Mimika. Ini jadi langkah awal buat pemerataan pendidikan yang lebih adil di wilayah tersebut.
Intinya, Sekolah Rakyat bukan cuma program biasa—tapi jadi “jembatan emas” buat anak-anak Papua punya masa depan yang lebih cerah.





