JAYAPURA — Sutradara dokumenter Dandhy Dwi Laksono akhirnya buka cerita soal pengalaman lamanya di Papua yang ternyata berkaitan banget dengan film terbarunya, “Pesta Babi”.
Lewat tulisan di akun Facebook pribadinya pada Rabu pagi, 27 Mei 2026, Dandhy membagikan kisah berjudul “11 Tahun Sebelum Pesta Babi”. Tulisan itu kemudian dimuat ulang oleh Suara Papua setelah mendapat izin langsung dari dirinya.
Dalam ceritanya, Dandhy mengenang momen awal Juli 2015 saat dirinya bersama tim Ekspedisi Indonesia Biru menyelesaikan proses syuting film dokumenter “The Mahuzes” di Muting, Merauke.
Waktu itu, mereka banyak dibantu komunitas gereja dan para pastor yang tinggal di pedalaman Papua. Dandhy bahkan sempat menginap di Sekretariat Keadilan dan Perdamaian (SKP) Keuskupan Agung Merauke demi berdiskusi soal kondisi masyarakat adat Papua.
Ia juga menyebut nama Pastor Niko Rumbayan dan Pastor Anselmus Amo yang aktif mendampingi warga saat proyek food estate mulai masuk ke wilayah Papua Selatan.
Menurut Dandhy, gereja saat itu cukup vokal mengkritik proyek besar pemerintah yang dianggap bikin masyarakat adat makin tersingkir dari tanah sendiri.
Salah satu sosok yang ia kenang adalah Mgr. Nicolaus Adi Seputra, Uskup Agung Merauke kala itu. Dandhy mengingat ucapan sang uskup yang menyindir sistem pertanian modern pemerintah.
“Tanah yang semula melayani, kini harus dilayani.”
Kalimat itu disebut jadi kritik terhadap model pertanian padat modal yang dinilai tidak cocok dengan kehidupan masyarakat asli Papua.
Film “The Mahuzes” sendiri bercerita tentang perjuangan warga adat menghadapi ekspansi sawit dan proyek food estate di Papua.
Menariknya, Dandhy mengungkap kalau Pastor Niko ternyata pernah ikut mendorong gerakan pemasangan palang adat atau sasi untuk membatasi masuknya perusahaan ke tanah warga.
Menurutnya, ide itu mirip dengan simbol salib merah yang muncul dalam film “Pesta Babi” tahun 2026.
Saat kembali melakukan syuting “Pesta Babi” sebelas tahun kemudian, Dandhy mengaku mencoba mencari lagi suasana kritis di lingkungan gereja Katolik Merauke. Namun situasinya disebut sudah berubah.
Ia mengatakan banyak pastor lama sudah dipindahkan ke luar Papua dan diskusi terbuka soal proyek negara menjadi jauh lebih sulit dilakukan.
Bahkan, menurut cerita yang ia dengar dari komunitas Katolik setempat, pernah ada umat yang ditangkap polisi karena memprotes sikap gereja terhadap proyek-proyek investasi di Papua.
Dandhy dan tim media Jubi juga sempat berusaha menemui Uskup Merauke untuk meminta pandangan resmi terkait gerakan 1.800 salib merah yang muncul dalam film “Pesta Babi”. Namun berbagai upaya, termasuk pengiriman surat resmi pada 16 Juni 2025, disebut tidak mendapat hasil.
Akhirnya, pihak yang bersedia diwawancarai hanya Uskup Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru.
Di akhir tulisannya, Dandhy mengaku sempat kembali mampir ke Muting dan melihat hutan yang dulu diperjuangkan warga masih bertahan, meski kini sudah dikepung perkebunan sawit untuk biodiesel.
Ia juga mengenang bagaimana gereja di sana dulu membuka pintu bagi masyarakat adat yang berusaha mempertahankan ruang hidup mereka di tengah tekanan proyek besar negara.





