TIMIKA – PT Freeport Indonesia (PTFI) menargetkan tambang bawah tanah Kucing Liar di kawasan Grasberg, Papua Tengah, mulai berproduksi pada 2029.
Saat ini, proses pengembangan tambang masih terus berjalan. PTFI sedang melakukan berbagai pekerjaan, mulai dari membuka akses hingga menyiapkan infrastruktur pendukung tambang bawah tanah tersebut.
Presiden Direktur PTFI, Tony Wenas, mengatakan pengembangan Kucing Liar masih menjadi fokus perusahaan sebelum tambang tersebut benar-benar masuk tahap produksi.
“Kita mulai menambang Kucing Liar sekitar tahun 2029. Sekarang masih tahap pengembangan tambang bawah tanah,” kata Tony Wenas, Jumat (7/8/2026).
Kucing Liar nantinya akan menjadi tambang bawah tanah keempat yang dioperasikan PTFI di kawasan Grasberg.
Target produksi ini mengalami perubahan dari rencana sebelumnya. Semula, tambang Kucing Liar ditargetkan mulai berproduksi pada 2028. Namun, jadwal tersebut bergeser setelah terjadi insiden luncuran material basah di area Grasberg Block Cave (GBC).
Di sisi lain, PTFI juga masih menunggu kepastian mengenai perpanjangan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK). Perusahaan telah mengajukan permohonan perpanjangan kepada pemerintah pada Juni 2026.
IUPK yang menjadi dasar operasional tambang Grasberg saat ini akan berakhir pada 2041.
Tony Wenas menilai kepastian perpanjangan IUPK sangat penting bagi kelanjutan investasi perusahaan. Pasalnya, pembangunan tambang bawah tanah membutuhkan investasi besar dan proses pengembangan yang panjang.
Bahkan, proses pengembangan tambang bawah tanah dapat membutuhkan waktu lebih dari 15 tahun sebelum akhirnya mencapai tahap produksi.
Menurutnya, percepatan penerbitan IUPK akan memberikan kepastian bagi PTFI untuk mengembangkan cadangan mineral baru sekaligus menjaga keberlanjutan produksi tambang setelah 2041.
Permohonan perpanjangan IUPK tersebut merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman atau MoU antara Pemerintah Indonesia dan Freeport-McMoRan (FCX) yang ditandatangani pada Februari 2026.
Dalam kesepakatan tersebut, FCX akan mempertahankan kepemilikan saham sebesar 48,76 persen hingga 2041. Selanjutnya, kepemilikan tersebut menjadi sekitar 37 persen mulai 2042 sesuai skema divestasi.
Sementara itu, dalam laporan kinerja kuartal II 2026, FCX menyebut proses pemulihan operasional Grasberg Block Cave setelah insiden pada September 2025 terus berjalan sesuai rencana.
Blok Produksi 2 dan 3 disebut sudah kembali beroperasi sejak akhir Maret 2026, kemudian kapasitas produksinya terus ditingkatkan secara bertahap.
FCX juga menilai perpanjangan IUPK penting untuk menjaga keberlanjutan operasi Grasberg sekaligus memberikan ruang bagi pengembangan cadangan mineral baru di kawasan tersebut.
Bagi Papua Tengah dan Mimika, perkembangan tambang Kucing Liar menjadi salah satu perhatian penting karena proyek tersebut berkaitan dengan keberlanjutan aktivitas pertambangan Grasberg dalam jangka panjang.





