spot_img
spot_img
Seven TribesFestival Film Papua Ungkap Pesan Mengejutkan Suku Moi soal Tanah Leluhur

Festival Film Papua Ungkap Pesan Mengejutkan Suku Moi soal Tanah Leluhur

Festival Film Papua ke-8 menampilkan film “Menanam Kehidupan” yang merekam cara Suku Moi Salkma menghormati tanah leluhur dan menjaga pengetahuan hidup untuk generasi muda.

Must read

SORONG, PAPUA BARAT DAYA — Festival Film Papua ke-8 tahun 2026 kembali menghadirkan cerita tentang kehidupan masyarakat adat Papua. Kali ini, film dokumenter “Menanam Kehidupan” mengangkat cara masyarakat adat Moi Salkma menjaga, menghormati dan memanfaatkan tanah leluhur sebagai sumber kehidupan.

Film tersebut diputar di Bengkel Budaya Papua atau Belantara Rakyat, Sorong, Provinsi Papua Barat Daya, Minggu malam (9/8/2026).

Film “Menanam Kehidupan” dibuat oleh Papuan Voices wilayah Sorong. Ceritanya menggambarkan kehidupan masyarakat adat Moi Salkma dari sudut pandang mereka sendiri.

Bagi masyarakat Moi, tanah bukan sekadar tempat untuk tinggal atau wilayah yang memiliki nilai ekonomi. Tanah merupakan bagian dari kehidupan karena dari sanalah masyarakat mendapatkan makanan, berkebun, menjaga kebudayaan hingga meneruskan kehidupan kepada generasi berikutnya.

Berbagai tanaman pangan lokal seperti kasbi, keladi, pisang dan tanaman lainnya ikut menjadi bagian dari cerita dalam film tersebut.

Tidak hanya itu, film juga memperlihatkan berbagai peralatan sederhana yang sejak dulu digunakan masyarakat untuk mengolah kebun, seperti kapak, parang dan batu gosok.

Benda-benda tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun bagi masyarakat adat Moi, peralatan itu menyimpan pengetahuan tentang bagaimana leluhur mereka bertahan hidup dengan memanfaatkan apa yang tersedia di alam.

Anak Muda Diajak Kembali Kenal Pengetahuan Leluhur

Pemuda adat Moi, Samuel Moifilit, mengatakan film “Menanam Kehidupan” lahir melalui proses belajar bersama masyarakat adat.

Menurutnya, film ini bukan hanya dibuat untuk menghasilkan sebuah karya audiovisual. Lebih dari itu, film menjadi cara agar generasi muda kembali melihat, mendengar, merekam dan mempraktikkan pengetahuan yang selama ini diwariskan oleh orang tua mereka.

“Pengetahuan itu tidak cukup hanya diceritakan oleh orang tua kepada anak-anaknya. Generasi muda harus ikut melihat, mendengar, merekam dan membuat karya dari pengetahuan yang mereka miliki,” kata Samuel.

Ia menjelaskan, proses pembuatan film sejak awal dilakukan dengan melibatkan tetua adat dan pemuda. Cerita yang ditampilkan bukan dibuat dari luar, tetapi berasal dari pengalaman masyarakat sendiri.

Para pemuda bahkan dilatih memegang kamera dan merekam kehidupan mereka berdasarkan apa yang mereka lihat dan alami.

Dengan begitu, masyarakat adat tidak hanya menjadi objek yang direkam. Mereka juga menjadi pihak yang menceritakan kehidupannya sendiri.

Menurut Samuel, pendekatan ini penting karena pengetahuan masyarakat adat bisa hilang ketika generasi muda semakin jauh dari kehidupan dan praktik leluhur.

Kapak, parang dan batu gosok, misalnya, bukan sekadar alat. Di balik benda-benda tersebut terdapat pengetahuan tentang cara membuka kebun, mengolah tanah dan memenuhi kebutuhan hidup.

Tanah Jangan Hanya Dilihat sebagai Tempat Investasi

Pesan lain yang ingin disampaikan melalui film tersebut adalah pentingnya generasi muda tidak melupakan pengetahuan berkebun yang diwariskan secara turun-temurun.

Jangan sampai pengetahuan yang dibangun orang tua selama bertahun-tahun hilang hanya karena generasi sekarang merasa semua kebutuhan hidup bisa dibeli dengan uang.

Pemuda adat Moi, Yordan Mayamuk, mengatakan film “Menanam Kehidupan” memperlihatkan perbedaan cara generasi terdahulu dan generasi sekarang dalam mengelola kebun.

Generasi sebelumnya memiliki cara sendiri untuk membuka lahan dan memenuhi kebutuhan hidup. Mereka tidak sepenuhnya bergantung pada uang maupun teknologi modern.

“Jadi tujuan film ini adalah supaya anak-anak generasi sekarang sadar bahwa tanah itu penting. Kita sekarang melihat banyak investasi dan berbagai program yang masuk,” kata Yordan.

Karena itu, generasi muda dinilai perlu memahami kembali bagaimana orang tua dan leluhur mereka menjalani kehidupan.

Hal ini penting ketika berbagai program pembangunan maupun investasi masuk ke wilayah adat. Generasi muda harus tetap mengetahui bahwa di tanah tersebut sudah ada masyarakat yang memiliki sejarah, ruang hidup, kebun serta tata cara kehidupan sendiri.

Yordan mengajak anak-anak muda Papua untuk kembali melihat kehidupan di kampung masing-masing.

Bagaimana orang tua dulu membuka lahan, membersihkan kebun, membuat pagar, menanam hingga menghasilkan makanan. Semua itu bukan hanya pekerjaan sehari-hari, tetapi merupakan bagian dari pengetahuan hidup masyarakat adat.

Ia khawatir apabila pengetahuan tersebut tidak diteruskan, generasi berikutnya hanya mengetahui hasil akhirnya tanpa memahami proses yang dilakukan leluhur.

Menurutnya, yang terancam bukan hanya berkurangnya aktivitas berkebun, tetapi juga hilangnya pengetahuan yang melekat dalam praktik tersebut.

Ketergantungan terhadap uang dan berbagai program juga dinilai dapat membuat sebagian generasi muda semakin jauh dari kemampuan memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri.

Perempuan Papua Ikut Belajar Membuat Film

Proses pembuatan film dokumenter “Menanam Kehidupan” juga memberikan pengalaman baru bagi perempuan dan pemuda Papua.

Irma Irene Merino, salah satu perempuan Papua yang terlibat dalam produksi film tersebut, mengatakan proses pengambilan gambar dilakukan dengan berbagai tantangan di lapangan.

Tim harus mengikuti perjalanan masyarakat, merekam aktivitas mereka sekaligus memastikan suara dan gambar yang dihasilkan bisa digunakan dalam proses penyuntingan.

Tidak jarang masalah baru terlihat ketika proses editing dimulai. Ada suara lain yang masuk, gambar kurang jelas, hingga rekaman yang buram atau goyang.

“Persoalan tersebut baru benar-benar terasa ketika memasuki proses editing. Ketika selesai pengambilan gambar dan mulai editing, baru kami melihat ada gambar yang kurang, ada suara yang masuk, ada gambar yang buram atau goyang,” kata Irma.

Namun bagi Irma, berbagai kendala tersebut justru menjadi bagian dari proses belajar.

Membuat film, katanya, bukan hanya soal mengambil gambar. Ada banyak hal yang harus diperhatikan, mulai dari suara, visual, alur cerita hingga bagaimana pesan yang ingin disampaikan bisa diterima penonton.

Pengalaman tersebut juga menjadi kesempatan bagi perempuan dan pemuda Papua untuk belajar mendokumentasikan cerita masyarakat mereka sendiri.

“Bagi saya, proses ini penting karena kami bisa belajar langsung dari lapangan. Kami tidak hanya mendengar cerita orang tua, tetapi ikut merekam perjalanan dan kehidupan mereka,” ujarnya.

Film Tidak Harus Selalu Viral di Media Sosial

Samuel Moifilit juga menilai keberhasilan film dokumenter tidak selalu harus diukur dari seberapa banyak penonton di platform digital.

Papuan Voices memiliki cara tersendiri dalam mendistribusikan film dokumenter yang mereka produksi. Salah satunya melalui pemutaran langsung di komunitas dan kampung.

Menurutnya, pemutaran langsung justru membuka ruang dialog yang lebih kuat antara pembuat film dan masyarakat.

Masyarakat bisa langsung memberikan tanggapan, sementara pembuat film dapat mendengar bagaimana cerita tersebut dipahami oleh penonton.

Dengan cara ini, pesan film bisa dibicarakan secara lebih mendalam.

Sebab, sebuah film bukan hanya tentang kualitas gambar dan suara. Film juga menjadi ruang untuk menyimpan cerita, pengetahuan dan pengalaman masyarakat.

Film “Menanam Kehidupan” akhirnya menjadi lebih dari sekadar karya dokumenter. Film ini menjadi pengingat bahwa tanah leluhur bagi masyarakat Moi memiliki nilai yang jauh lebih dalam daripada sekadar nilai ekonomi.

Di tengah perubahan zaman dan masuknya berbagai program pembangunan serta investasi, generasi muda Papua diajak untuk tidak kehilangan hubungan dengan tanah, kebudayaan dan pengetahuan yang diwariskan para leluhur.

Dari tanah itulah kehidupan dimulai, dan melalui generasi muda pula pengetahuan tersebut diharapkan tetap hidup.

Anda dapat membaca berbagai berita-berita teraktual kami di platform Google News.

spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Recent

Popular