JAYAPURA – Aksi protes soal 63 tahun Papua masuk ke NKRI sejak 1 Mei 1963 kembali digelar. Kali ini, mahasiswa Papua di Makassar turun ke jalan, Sabtu (2/5/2026).
Mereka datang buat nyuarain pendapat mereka soal isu ini—dengan aksi yang cukup jadi perhatian publik.
Dalam aksi tersebut, para peserta menyampaikan aspirasi terkait sejarah dan status Papua. Mereka juga meneriakkan berbagai slogan, termasuk seruan “merdeka”, yang langsung menarik perhatian publik.
Aksi ini jadi bukti kalau isu Papua masih jadi topik sensitif dan sering memicu perdebatan panjang di masyarakat. Nggak cuma di Papua, tapi juga di kota-kota lain seperti Makassar.
Selain menyuarakan pendapat, massa juga membawa pesan agar masyarakat lebih membuka ruang diskusi soal sejarah dan kondisi Papua dari berbagai sudut pandang.
Di sisi lain, aksi seperti ini juga mengingatkan pentingnya menyampaikan aspirasi dengan damai dan tetap menjaga ketertiban, supaya pesan yang ingin disampaikan bisa diterima tanpa menimbulkan konflik.
Selain orasi diwarnai tarian adat selama dua jam lebih, Forum Solidaritas Pelajar Mahasiswa Peduli Rakyat Papua (FSPM-PRP) Makassar membacakan pernyataan sikap di aksi damai kali ini tepat Pukul 11:00 WITA.
Pernyataan sikap politik dibacakan penanggungjawab aksi FSMP-PRP Makassar di depan Monumen Mandala.
Intinya, aksi di Monumen Mandala ini bukan cuma sekadar demo biasa—tapi bagian dari dinamika suara masyarakat yang terus berkembang soal Papua.





