NABIRE – Pemerintah Papua Tengah lagi serius banget ngasih edukasi soal kesehatan reproduksi, tapi dengan cara yang beda dari biasanya. Nggak cuma teori, tapi juga digabungin sama budaya lokal biar lebih nyambung ke masyarakat.
Lewat Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan KB (DP3AP2KB), kegiatan sosialisasi ini digelar di Nabire dan melibatkan banyak pihak—mulai dari tenaga kesehatan, dinas terkait, sampai tokoh adat.
Tujuan utamanya jelas: bikin masyarakat, khususnya orang asli Papua, lebih paham soal kesehatan reproduksi dan hak-haknya. Soalnya, selama ini masih banyak yang salah paham, terutama soal program KB yang dianggap membatasi jumlah anak.
Padahal, menurut penjelasan dari pihak DP3AP2KB, program KB itu lebih ke mengatur jarak kelahiran supaya anak bisa tumbuh dengan baik dan keluarga jadi lebih sehat.
Yang menarik, pendekatan yang dipakai nggak kaku. Mereka pakai bahasa daerah, nilai-nilai adat, dan melibatkan tokoh masyarakat supaya pesan yang disampaikan lebih gampang diterima—apalagi karena topik ini sering dianggap tabu.
Kegiatan ini juga jadi penting banget karena Papua Tengah masih tergolong provinsi baru, jadi kualitas sumber daya manusia benar-benar harus dipersiapkan dari sekarang.
Selama dua hari, peserta dari berbagai daerah ikut terlibat aktif, termasuk tenaga medis dari puskesmas, dinas kesehatan, hingga perwakilan lembaga adat.
Intinya, edukasi ini bukan cuma soal kesehatan, tapi juga tentang cara menyampaikan hal penting dengan pendekatan yang lebih dekat, relevan, dan bisa diterima semua kalangan.





