Saudara-saudari di Pegunungan Bintang (Pegubin) lagi bersuara keras nih. Mahasiswa, pelajar, mama-mama (perempuan), sampai tokoh agama dari suku Ketengban kompak bilang tolak pembangunan pos militer di wilayah mereka.
Aksi ini mereka sampaikan dalam kegiatan damai di Sentani, Jayapura. Intinya jelas: mereka tidak setuju kalau wilayah adat mereka dijadikan tempat bangun pos militer.
Bukan Cuma 1-2 Tempat, Tapi Sampai 14 Distrik
Yang bikin makin panas, rencana pembangunan itu bukan cuma di satu lokasi, tapi disebut bakal masuk ke sekitar 14 distrik di wilayah Ketengban.
Mahasiswa bilang, ini bukan hal kecil. Mereka khawatir dampaknya bisa besar buat kehidupan masyarakat adat di sana.
Takut Terulang Trauma & Konflik
Menurut mereka, pengalaman di beberapa daerah lain di Papua jadi pelajaran. Kehadiran militer sering kali bikin masyarakat harus mengungsi atau hidup dalam ketakutan.
Makanya mereka tegas bilang:
👉 “Jangan sampai kejadian begitu ulang lagi di tanah kami.”
Mama-Mama Angkat Suara: Ini Soal Masa Depan Anak
Perwakilan perempuan juga bicara tegas. Mama-mama di sana bilang, pembangunan pos militer bisa ganggu kehidupan sosial dan masa depan generasi muda.
Mereka lebih butuh:
- pendidikan yang layak
- layanan kesehatan
- pembangunan yang bantu masyarakat
Bukan pendekatan militer.
Tokoh Gereja: Kami Mau Hidup Damai Saja
Dari pihak gereja juga kasih suara yang sama. Mereka bilang, masyarakat sekarang hidup aman, ibadah jalan baik, aktivitas normal.
Pesannya jelas:
👉 jangan sampai kehadiran militer justru bikin suasana jadi tegang.
Harapan ke Pemerintah: Dengar Suara Rakyat
Mahasiswa dan masyarakat minta pemerintah daerah sampai pusat untuk dengar aspirasi mereka. Mereka ingin pembangunan yang fokus ke kesejahteraan, bukan keamanan bersenjata.
Kasus Pegubin ini nunjukin satu hal:
masyarakat lokal mau ikut bicara soal masa depan tanah mereka sendiri.
Dan pesan mereka simpel tapi kuat:
👉 “Kami mau hidup aman, bukan hidup dalam rasa takut.”





