JAKARTA — Sepak bola Indonesia dinilai sudah bergerak jauh dibanding beberapa tahun lalu. Perubahan itu tidak hanya terlihat dari permainan di lapangan, tetapi juga dari cara klub mengelola tim dan mempersiapkan diri menghadapi kompetisi.
Presiden Klub Persipura Jayapura, Owen Rahadiyan, menyebut paradigma terhadap sepak bola dan Liga Indonesia kini mulai berubah.
Hal itu disampaikannya dalam diskusi Water Break PSSI Pers di Jakarta, Senin (31/8/2026).
Menariknya, Owen mengaku bahwa dulu dirinya justru tidak terlalu menyukai sepak bola. Bahkan, sekitar 20 tahun lalu, ia sempat memiliki pandangan yang kurang baik terhadap pertandingan sepak bola di Indonesia.
Namun, seiring berjalannya waktu, pandangan tersebut berubah.
“Sebenarnya saya tidak suka nonton sepak bola ketika kecil, kira-kira 20 tahun lalu, tapi perspektif itu sekarang berubah,” kata Owen.
Liga Indonesia Dinilai Makin Teratur
Menurut Owen, perkembangan Liga Indonesia dalam beberapa tahun terakhir cukup terasa.
Ia tidak menutup mata bahwa masih ada masyarakat yang kecewa dengan berbagai keputusan maupun kondisi kompetisi. Tetapi secara umum, menurutnya, liga mengalami perkembangan yang cukup pesat, terutama dalam sekitar lima tahun terakhir.
“Liga Indonesia sudah banyak peningkatan. Tentu banyak orang yang masih tidak suka dengan berbagai keputusan dan keadaan, tapi liga kita berkembang pesat selama lima tahun terakhir,” ujarnya.
Salah satu perubahan yang paling dirasakan klub adalah soal kepastian jadwal pertandingan.
Bagi manajemen klub, jadwal yang lebih jelas sangat penting. Sebab, klub tidak hanya memikirkan pertandingan, tetapi juga harus menghitung anggaran, kontrak pemain, perjalanan tim, pemusatan latihan hingga berbagai kebutuhan operasional lainnya.
Owen mengatakan, kondisi beberapa tahun lalu cukup berbeda. Klub bahkan bisa kesulitan membuat perencanaan karena jadwal kompetisi belum pasti.
“Dulu kami bingung kalau mau beli pemain, tapi jadwal enggak jelas. Namun tiga tahun terakhir lebih on time. Manajemen klub juga lebih mudah untuk membuat prakiraan dan proyeksi,” jelasnya.
Komersial Mulai Jadi Perhatian Besar
Pandangan serupa disampaikan Chief Operating Officer Persik Kediri, Arthur Irawan.
Menurut Arthur, perkembangan sepak bola Indonesia juga bisa dilihat dari semakin terbukanya kompetisi terhadap kerja sama dengan merek-merek besar dunia.
Hal tersebut menjadi penting karena sepak bola modern tidak hanya berbicara tentang kemenangan dan kekalahan. Klub juga harus mampu membangun bisnis, mengembangkan merek, menarik sponsor, serta menciptakan ekosistem yang sehat.
Arthur bahkan mengaku bangga melihat operator liga mampu menjalin kerja sama dengan Adidas, salah satu jenama olahraga besar dunia.
“Saya pribadi sangat bangga karena operator liga bisa bekerjasama dengan Adidas. Ini salah satu tanda upgrade dari kompetisi kita,” kata Arthur.
Menurutnya, kerja sama tersebut menunjukkan bahwa sepak bola Indonesia mulai mendapatkan perhatian yang lebih luas dari sisi komersial.
Persik Kediri sendiri juga memiliki kerja sama dengan perusahaan besar asal Jerman tersebut.
Persipura dan Persik Hadapi Tantangan Baru
Perubahan paradigma ini tentu menjadi tantangan sekaligus peluang bagi klub-klub Indonesia, termasuk Persipura Jayapura.
Bagi klub sebesar Persipura, perkembangan industri sepak bola membuat pengelolaan klub tidak bisa lagi hanya mengandalkan nama besar dan sejarah.
Manajemen harus semakin profesional dalam menyusun tim, mengatur keuangan, membaca jadwal kompetisi, membangun hubungan dengan sponsor hingga menjaga komunikasi dengan suporter.
Di sisi lain, perubahan tersebut membuka peluang lebih besar bagi klub untuk berkembang.
Liga yang semakin teratur dan semakin kuat dari sisi komersial diharapkan bisa membuat klub-klub Indonesia lebih siap bersaing, baik di kompetisi domestik maupun level Asia.
Bagi Persipura, era baru sepak bola Indonesia ini menjadi momentum untuk kembali membangun klub secara lebih profesional sekaligus mengejar target kembali ke level tertinggi sepak bola nasional.





