TIMIKA, Papua Tengah – Kontribusi PT Freeport Indonesia (PTFI) untuk negara diproyeksikan bisa menembus lebih dari Rp100 triliun setiap tahun jika perusahaan sudah mampu beroperasi dengan kapasitas produksi penuh 100 persen.
Hal tersebut disampaikan Presiden Direktur PTFI Tony Wenas saat ditemui di Kuala Kencana, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Senin (17/8/2026).
Tony menjelaskan, sepanjang 2025, PTFI telah memberikan kontribusi kepada negara sekitar Rp75 triliun.
Dari jumlah tersebut, sekitar Rp13 triliun menjadi bagian pemerintah Kabupaten Mimika, Pemerintah Provinsi Papua Tengah, serta sejumlah kabupaten lainnya di Papua Tengah.
Menurut Tony, kontribusi tersebut menunjukkan komitmen perusahaan untuk tetap memberikan manfaat bagi negara dan masyarakat meskipun PTFI menghadapi berbagai tantangan dalam menjalankan kegiatan operasionalnya.
Produksi Pulih, Kontribusi Ikut Naik
Tony mengatakan peningkatan kapasitas produksi PTFI akan berpengaruh langsung terhadap besarnya kontribusi perusahaan kepada negara.
Jika produksi nantinya kembali mencapai kapasitas penuh, kontribusi PTFI diperkirakan meningkat menjadi lebih dari Rp100 triliun per tahun.
“Ketika nantinya kita mencapai kapasitas produksi 100 persen, maka kontribusi PTFI bagi negara akan mencapai lebih dari Rp100 triliun setiap tahunnya,” tegas Tony.
Proyeksi tersebut menjadi salah satu gambaran besarnya peran industri pertambangan PTFI terhadap perekonomian nasional maupun daerah, khususnya di Papua Tengah.
Smelter Gresik Siap Beroperasi
Selain berbicara mengenai produksi tambang, Tony juga menyampaikan perkembangan fasilitas pengolahan mineral milik PTFI.
Smelter PTFI di Gresik disebut telah siap kembali beroperasi. Bersama Smelter PT Smelting, kedua fasilitas tersebut nantinya memiliki kapasitas pemurnian sekitar 3 juta ton konsentrat tembaga per tahun.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kegiatan hilirisasi dan pengolahan mineral di dalam negeri.
Investasi Tambang Kucing Liar Rp72 Triliun
Di sisi lain, pengembangan tambang bawah tanah Kucing Liar juga terus berjalan.
Tambang tersebut diproyeksikan menjadi salah satu sumber produksi utama PTFI pada masa mendatang.
Untuk pengembangannya, investasi yang telah dikeluarkan mencapai sekitar Rp25 triliun. Sementara secara keseluruhan, nilai investasi proyek Kucing Liar diproyeksikan mencapai sekitar Rp72 triliun.
Dengan pengembangan tambang, pemulihan kapasitas produksi, serta kesiapan fasilitas smelter, PTFI menargetkan kontribusi yang semakin besar bagi negara dan masyarakat.
Jika kapasitas produksi 100 persen berhasil dicapai, kontribusi perusahaan diproyeksikan menembus Rp100 triliun setiap tahun.





