JAYAPURA, Senin 22 Juni 2026 – Aksi pawai spontan yang dilakukan sekelompok anak muda Papua yang tergabung dalam Komunitas Gen Z Papua berakhir dibubarkan aparat kepolisian di kawasan Lampu Merah Dok II, Kota Jayapura, Minggu (21/6/2026).
Pawai yang berangkat dari kawasan Yapis Dok V Atas itu dilakukan sebagai bentuk penyampaian aspirasi terkait isu kemanusiaan, lingkungan hidup, serta penolakan terhadap sejumlah Proyek Strategis Nasional (PSN) yang direncanakan di beberapa wilayah Papua seperti Merauke, Boven Digoel, Mappi, Jayapura, Keerom hingga Biak.
Dalam aksi tersebut, para peserta membawa berbagai poster dan spanduk bertuliskan pesan-pesan terkait perlindungan masyarakat adat, isu HAM, serta penolakan terhadap proyek pembangunan yang dianggap berpotensi berdampak pada lingkungan dan kehidupan warga lokal.
Koordinator aksi, Aldy Hukubun, mengatakan kegiatan itu dilakukan untuk mengingatkan masyarakat agar tidak hanya fokus pada euforia Piala Dunia 2026, tetapi juga tetap memperhatikan berbagai persoalan sosial dan lingkungan yang terjadi di Papua.
Menurutnya, aksi dilakukan secara damai dengan jumlah peserta sekitar 50 orang dan tetap berupaya menjaga ketertiban lalu lintas selama konvoi berlangsung.
Namun saat rombongan tiba di kawasan Lampu Merah Dok II, aparat kepolisian menghentikan dan membubarkan kegiatan tersebut. Polisi disebut beralasan bahwa pawai tidak memiliki izin serta berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat.
Hal itu memicu perdebatan antara peserta aksi dan aparat. Para peserta mempertanyakan alasan pembubaran karena sebelumnya sejumlah pawai dukungan tim peserta Piala Dunia disebut dapat berlangsung dengan pengawalan kepolisian.
Selain itu, sempat terjadi tarik ulur terkait sejumlah atribut aksi berupa spanduk dan poster yang diambil aparat. Setelah dilakukan dialog di lokasi, atribut tersebut akhirnya dikembalikan kepada peserta.
Salah satu peserta, Brush Wadi, mengaku kecewa karena aksi yang mereka klaim berlangsung tertib tidak dapat melanjutkan perjalanan hingga titik akhir yang telah direncanakan.
Meski demikian, para peserta menyatakan akan terus menyuarakan aspirasi mereka melalui kegiatan-kegiatan serupa yang melibatkan lebih banyak komunitas dan anak muda di Kota Jayapura.
Mereka juga mengajak seluruh generasi muda yang tinggal di Papua, tanpa memandang latar belakang suku maupun daerah asal, untuk ikut peduli terhadap berbagai persoalan sosial, lingkungan, dan masa depan Tanah Papua.
Peristiwa ini kembali memunculkan diskusi di tengah masyarakat mengenai ruang penyampaian aspirasi publik, kebebasan berekspresi, serta pentingnya menjaga ketertiban umum dalam setiap kegiatan yang melibatkan massa.





