spot_img
spot_img
HeadlinesAkhirnya Damai! Massa Wouma-Kurima Dipulangkan, Wamena Mulai Kembali Tenang

Akhirnya Damai! Massa Wouma-Kurima Dipulangkan, Wamena Mulai Kembali Tenang

Pemulangan massa Wouma-Kurima di Wamena, Papua Pegunungan, menjadi tanda berakhirnya konflik yang sempat memanas sejak pertengahan Mei 2026. Prosesi adat bakar batu digelar sebagai simbol perdamaian.

Must read

WAMENA — Situasi di Wamena, Papua Pegunungan, mulai kembali adem setelah massa dari Wouma-Kurima resmi dipulangkan ke daerah masing-masing. Pemulangan ini jadi tanda kalau konflik yang sempat memanas sejak pertengahan Mei 2026 akhirnya dinyatakan berakhir.

Prosesi adat pelepasan dilakukan pada Kamis, 27 Mei 2026, lewat tradisi bakar batu dan ritual lepas tali busur panah di Maplima, Wamena. Ritual ini jadi simbol perdamaian sekaligus tanda kalau kedua kelompok sepakat menghentikan konflik dan aksi balas dendam.

Kepala Suku Wouma-Kurima, Hamzah Lantipo, mengatakan pemerintah sebelumnya sudah mempertemukan kedua pihak yang bertikai di Polres Jayawijaya untuk menyepakati perdamaian secara adat dan administrasi. Setelah kesepakatan itu diumumkan kepada masyarakat, massa akhirnya dipulangkan secara bertahap.

Sebelum proses pemulangan dilakukan, masyarakat lebih dulu menggelar bakar batu dengan sekitar 30 ekor babi sebagai bagian dari ritual adat pelepasan tali busur panah. Tradisi itu punya makna supaya masyarakat bisa kembali hidup damai dan berkumpul lagi bersama keluarga mereka.

Konflik antara kelompok Wouma-Kurima dan warga dari Lanny Jaya sebelumnya pecah pada 15 Mei 2026 di Distrik Wouma dan sempat membuat situasi Wamena mencekam. Bentrokan tersebut menyebabkan banyak warga mengungsi ke Polres, Kodim, dan gereja demi menyelamatkan diri.

Selain menimbulkan kerusakan rumah dan fasilitas warga, konflik itu juga berdampak besar terhadap aktivitas masyarakat, sekolah, dan ekonomi di Wamena. Bahkan pencarian korban di Kali Uwe berlangsung selama dua pekan dengan total 26 jenazah ditemukan oleh tim gabungan.

Pemerintah pusat, Pemprov Papua Pegunungan, aparat keamanan, tokoh adat, dan tokoh masyarakat ikut terlibat dalam proses mediasi perdamaian. Prosesi “Patah Panah” yang digelar sebelumnya di Mapolres Jayawijaya juga menjadi simbol resmi berakhirnya konflik adat tersebut.

Warga sekarang berharap kondisi Wamena bisa benar-benar kembali normal supaya aktivitas masyarakat, pendidikan, dan pembangunan di Papua Pegunungan dapat berjalan aman tanpa konflik lagi.

Anda dapat membaca berbagai berita-berita teraktual kami di platform Google News.

spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Recent

Popular