JAYAPURA — Atmosfer sepak bola di Tanah Papua kembali panas. Nama Persipura Jayapura lagi-lagi jadi pembicaraan utama warga Papua. Dari Jayapura sampai pesisir, satu suara terus menggema: Mutiara Hitam harus kembali ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia (Jayapura, 7 Mei).
Dukungan buat Persipura sekarang bukan cuma datang dari tribun stadion, tapi juga dari tokoh masyarakat, pemerintah daerah, komunitas anak muda Papua, sampai legenda sepak bola Papua sendiri. Semangat kebangkitan Persipura benar-benar terasa hidup.
Banyak warga Papua menilai Persipura bukan sekadar klub bola. Tim ini sudah jadi simbol harga diri, kebanggaan, dan identitas orang Papua di level nasional. Karena itu, ketika Persipura berjuang bangkit menuju Liga 1, masyarakat ikut merasa terpanggil untuk berdiri di belakang tim kebanggaan mereka.
Gelora dukungan makin membesar setelah performa Persipura menunjukkan tren positif dalam beberapa pertandingan terakhir. Optimisme publik pun mulai naik. Banyak yang percaya Boaz Solossa dan kawan-kawan masih punya mental juara untuk membawa nama Papua kembali bersinar di sepak bola Indonesia.
Pemerintah Provinsi Papua juga ikut menunjukkan komitmen penuh. Dukungan terhadap Persipura disebut bukan hanya soal olahraga, tapi juga tentang menjaga semangat persatuan dan kebanggaan masyarakat Papua.
Di media sosial, tagar dukungan untuk Persipura terus bermunculan. Anak-anak muda Papua ramai membuat video dukungan, poster digital, hingga ajakan memenuhi stadion demi memberi semangat langsung kepada skuad Mutiara Hitam.
“Persipura bukan cuma tim bola, ini harga diri Papua,” begitu kira-kira semangat yang sekarang ramai digaungkan publik Papua.
Kini harapan besar itu kembali menyala. Publik Papua percaya, jika seluruh elemen bersatu dan terus memberi dukungan penuh, Persipura bisa kembali bangkit dan menggetarkan Liga 1 seperti masa kejayaannya dulu.





