spot_img
spot_img
HeadlinesSudah Bayar Stan, Tapi Dagangan Belum Laku! Keluhan Mama-Mama Papua di FDS

Sudah Bayar Stan, Tapi Dagangan Belum Laku! Keluhan Mama-Mama Papua di FDS

Festival Danau Sentani ke-15 di Sentani dikritik karena UMKM mama-mama Papua belum merasakan dampak ekonomi pada hari pertama.

Must read

Sentani, 25 Agustus 2026 — Festival Danau Sentani (FDS) ke-15 kembali digelar. Namun, di balik kemeriahan acara budaya tersebut, muncul keluhan dari mama-mama Papua yang ikut berjualan di stan UMKM.

Mereka menilai, hari pertama FDS belum memberikan dampak ekonomi yang terasa bagi para pelaku usaha kecil yang sudah datang membawa hasil karya mereka.

Keluhan ini disampaikan Wakil Ketua Yayasan Pasar Mama Papua, Nurama Yarinap, saat ditemui di lokasi FDS, Pantai Kalkote, Kampung Harapan, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Papua, Selasa (25/8/2026).

Menurut Yarinap, pejabat yang datang ke lokasi festival seharusnya tidak hanya berkeliling melihat-lihat stan. Mereka diharapkan berinteraksi langsung dengan mama-mama Papua sekaligus membeli produk yang dijual.

“Kalau datang, jangan hanya keliling lihat stan. Mama-mama ini sudah bawa hasil karya, mulai dari noken, makanan dan berbagai kerajinan,” ujarnya.

Bukan Cuma Foto, Tapi Ikut Belanja

Yarinap menilai kehadiran pejabat di stan UMKM akan lebih berarti jika disertai dengan pembelian produk.

Menurutnya, langkah tersebut bukan hanya membantu penjualan, tetapi juga menjadi bentuk penghargaan kepada mama-mama yang sudah bekerja keras menghasilkan produk lokal Papua.

Ia bahkan mencontohkan kebiasaan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang disebutnya aktif membeli produk UMKM ketika menghadiri kegiatan pameran.

“Kalau pejabat datang, minimal beli satu atau dua barang. Itu sudah membuat mama-mama merasa dihargai,” katanya.

Yarinap menegaskan, FDS seharusnya tidak berhenti sebagai acara budaya dan seremoni saja. Festival juga harus menjadi ruang untuk menggerakkan ekonomi masyarakat Papua.

“Ini bukan event untuk foto-foto saja. Bagaimana kita memberikan perhatian kepada mama-mama yang hadir setiap hari untuk berusaha,” ujarnya.

Mama-Mama Masih Harus Bayar Stan

Persoalan lain yang menjadi sorotan adalah biaya stan. Yarinap mengatakan, mama-mama Papua yang mengikuti kegiatan tersebut harus mengeluarkan biaya untuk stan, sementara penjualan produk belum tentu ada.

Kondisi itu dinilai cukup berat, terutama bagi pelaku UMKM yang datang dari wilayah jauh.

Ia berharap pada kegiatan serupa ke depan, stan untuk mama-mama Papua bisa diberikan secara gratis.

“Kalau bicara peningkatan ekonomi orang Papua, mama-mama harus benar-benar diutamakan. Ke depan tidak boleh bayar stan. Semua mama harus dikasih gratis,” tegasnya.

Hari Pertama, Ada yang Belum Dapat Penjualan

Keluhan yang sama juga disampaikan Paulina Wouw, salah satu pelaku UMKM asal Griminawa, Distrik Nimboran.

Menurut Wouw, pada hari pertama FDS, pengunjung yang datang ke stan UMKM masih terbatas. Banyak yang hanya melihat-lihat lalu pergi tanpa membeli.

“Belum ada pendapatan,” katanya.

Wouw menjual berbagai produk kerajinan seperti noken, tusuk konde, bando serta kerajinan berbahan benang, kulit kayu dan bahan alam lainnya.

Beberapa noken yang dijual dibuat dari bahan alam, antara lain pucuk sagu, kulit semang perahu dan makota dewa. Produk tersebut dibuat dalam berbagai ukuran dan warna.

Bagi mama-mama yang datang dari jauh, penjualan sangat penting karena mereka harus mengeluarkan biaya transportasi dan makan selama mengikuti festival.

Wouw mengatakan dirinya dan mama-mama lainnya datang dari wilayah Ginyem, Distrik Nimboran.

“Kalau pulang-pergi jualan ternyata bawa hasil lumayan, anak-anak dan suami juga rasa puas,” ujarnya.

FDS Diharapkan Jadi Pasar Produk Papua

Yayasan Pasar Mama Papua berharap FDS tidak hanya menjadi tempat menampilkan budaya dan kesenian, tetapi juga benar-benar menjadi pasar bagi produk UMKM Papua.

Yarinap berharap pemerintah dan pejabat lebih memberikan perhatian kepada mama-mama Papua dalam setiap kegiatan yang berkaitan dengan ekonomi masyarakat.

Sementara Wouw berharap pengunjung yang datang pada hari-hari berikutnya mau membeli produk yang mereka jual.

“Bisa ambil satu, dua atau tiga barang. Supaya kita pulang dengan rasa puas,” katanya.

Bagi para pelaku UMKM, FDS seharusnya bukan sekadar panggung budaya. Festival harus bisa membawa hasil nyata ke kantong mama-mama Papua yang sudah jauh-jauh datang berjualan.

Anda dapat membaca berbagai berita-berita teraktual kami di platform Google News.

spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Recent

Popular