MIMIKA – Kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang masih sering terjadi di Indonesia, termasuk di Papua, membuat Menteri HAM RI Natalius Pigai mendorong adanya perubahan dalam cara pendidikan HAM di sekolah.
Pigai ingin HAM tidak hanya menjadi materi tambahan atau satu bab dalam mata pelajaran lain, tetapi dibuat menjadi buku pelajaran tersendiri yang wajib dipelajari siswa.
Gagasan tersebut disampaikan Natalius Pigai saat meresmikan Pusat Studi HAM di Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Mimika, Timika, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Selasa (18/8/2026).
Menurut Pigai, pemahaman tentang HAM harus diberikan sejak dini secara lebih terstruktur. Sebab, hak asasi merupakan sesuatu yang melekat pada setiap manusia sejak lahir hingga meninggal dunia.
Pigai Tolak HAM Cuma Jadi Satu Bab
Pigai mengungkapkan, pihaknya saat ini sedang berkomunikasi dengan Kementerian Pendidikan terkait usulan agar pendidikan HAM mendapatkan ruang khusus dalam sistem pendidikan nasional.
Ia mengatakan, sebelumnya muncul pembahasan agar materi HAM cukup dimasukkan sebagai salah satu bab dalam pelajaran yang sudah ada.
Namun, bagi Pigai, konsep tersebut belum cukup.
“Saya minta satu buku sendiri sebagai buku yang wajib diajarkan,” ujar Pigai.
Menurutnya, pendidikan HAM bukan hanya soal mengetahui aturan dan hak seseorang. Lebih jauh, pemahaman HAM penting untuk membentuk pengetahuan, etika, moral, serta kesadaran siswa mengenai hak dan kewajibannya sebagai warga negara.
Ingin HAM Masuk Kurikulum Nasional
Pigai juga mendorong adanya alokasi khusus materi HAM dalam kurikulum pendidikan nasional.
Materi tersebut, kata dia, dapat dikaitkan dengan pendidikan etika dan moral. Namun, gagasan tersebut masih harus melalui pembahasan lebih lanjut dengan pihak terkait.
Ia menyadari bahwa memasukkan HAM sebagai mata pelajaran atau bagian resmi kurikulum nasional membutuhkan proses panjang, termasuk kemungkinan penyesuaian kebijakan, undang-undang maupun kurikulum pendidikan.
Pigai mengaku terus melakukan komunikasi dan negosiasi agar gagasan tersebut dapat diwujudkan.
“Saya akan berusaha masukkan hak asasi manusia menjadi kurikulum resmi. Itu cita-cita,” katanya.
Bagi Pigai, pendidikan HAM sejak bangku sekolah menjadi salah satu langkah penting untuk membangun generasi yang lebih memahami hak, kewajiban, keadilan dan penghormatan terhadap sesama.





