TIMIKA – Setelah delapan bulan dilanda konflik yang memakan korban jiwa, masyarakat di Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika, akhirnya menggelar perdamaian adat pada Rabu (24/6/2026) dini hari. Namun aparat menegaskan, perdamaian kali ini bukan sekadar simbolik.
Kapolres Mimika, Billyandha Hildiario Budiman, menegaskan bahwa seluruh pihak yang terlibat sudah menandatangani kesepakatan damai. Artinya, jika ke depan masih ada pihak yang kembali memicu konflik, maka proses hukum akan langsung diterapkan.
Menurut Kapolres, perdamaian yang telah dicapai harus menjadi akhir dari konflik keluarga maupun perang kelompok yang selama ini terjadi di Kwamki Narama.
“Kalau masih ada yang melanggar kesepakatan dan kembali membuat keributan, mereka siap diproses sesuai hukum yang berlaku,” tegasnya, Kamis (25/6/2026).
Polisi: Jangan Ada Lagi Perang di Mimika
Kapolres mengingatkan bahwa aksi saling menyerang dan menghilangkan nyawa tidak dibenarkan dalam ajaran agama maupun aturan negara. Karena itu, semua pihak diminta benar-benar menjaga komitmen damai yang sudah dibangun bersama.
Meski demikian, kepolisian tetap menghormati proses adat yang berlaku di masyarakat. Berbagai ritual perdamaian seperti patah panah, cuci darah hingga makan bersama tetap diserahkan kepada para tokoh adat dan keluarga yang terlibat konflik.
400 Personel Disiagakan
Untuk memastikan situasi tetap aman pasca-perdamaian, aparat keamanan masih melakukan pengamanan ketat di sejumlah titik rawan.
Sedikitnya 400 personel gabungan Polres Mimika dan Brimob diterjunkan untuk berjaga di kawasan yang selama ini menjadi titik perbatasan konflik.
Personel ditempatkan di area tengah yang dianggap rawan gesekan guna mengantisipasi kemungkinan adanya pihak-pihak yang mencoba memancing situasi kembali memanas.
Selain anggota Polres Mimika, pengamanan juga diperkuat oleh dua peleton Brimob dan satu peleton Dalmas.
Harapan Baru untuk Kwamki Narama
Kesepakatan damai yang telah dicapai disambut sebagai langkah penting untuk mengakhiri konflik berkepanjangan yang selama berbulan-bulan mengganggu kehidupan masyarakat.
Kini harapan besar muncul agar Kwamki Narama bisa kembali menjadi wilayah yang aman, damai, dan fokus pada pembangunan tanpa dibayangi konflik yang berulang.





