TIMIKA – Setelah delapan bulan dilanda konflik berdarah yang merenggut banyak korban jiwa, masyarakat Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika, akhirnya menyaksikan momen yang telah lama dinantikan. Dua kelompok keluarga yang selama ini bertikai resmi menyatakan damai dan sepakat mengakhiri seluruh permusuhan.
Kesepakatan damai tersebut berlangsung dalam prosesi adat antara keluarga Dang dan Newegalen di Kampung Amole, Distrik Kwamki Narama, Rabu (24/6/2026).
Suasana haru menyelimuti jalannya acara ketika kedua belah pihak mengikuti ritual adat patah panah dan panah babi sebagai simbol berakhirnya konflik dan dimulainya lembaran baru bagi masyarakat setempat.
Konflik yang berlangsung selama delapan bulan terakhir diketahui telah menyebabkan sedikitnya 17 orang meninggal dunia dari kedua pihak. Selain korban jiwa, puluhan warga lainnya juga mengalami luka-luka akibat bentrokan yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.
Prosesi perdamaian dihadiri sejumlah pejabat dan tokoh penting, mulai dari Bupati Mimika Johannes Rettob, Ketua MRP Papua Tengah Agustinus Anggaibak, Wakil Ketua Komisi I DPR Papua Tengah Yohanes Kemong, unsur Forkopimda, aparat keamanan, hingga tokoh adat, tokoh agama, dan tokoh masyarakat.
Bupati Mimika Johannes Rettob menegaskan bahwa konflik yang terjadi merupakan perang saudara dalam lingkup keluarga, bukan konflik antarsuku. Karena itu, ia berharap perdamaian yang telah disepakati benar-benar menjadi akhir dari seluruh pertikaian yang terjadi.
“Hari ini kita berkumpul untuk menyatakan perdamaian bersama. Kedua pihak sudah sepakat berdamai. Jangan ada perang lagi di Kwamki Narama,” tegas Johannes Rettob.
Ia berharap wilayah Kwamki Narama dapat kembali aman sehingga masyarakat bisa menjalani aktivitas dengan tenang dan pembangunan daerah dapat berjalan lebih baik.
Menurutnya, perdamaian ini harus menjadi titik awal bagi masyarakat untuk membangun masa depan yang lebih baik tanpa konflik dan kekerasan.
Ketua MRP Papua Tengah Agustinus Anggaibak juga mengaku bersyukur karena konflik yang berlangsung berbulan-bulan akhirnya bisa diselesaikan melalui pendekatan adat dan kesepakatan bersama.
Ia mengapresiasi kerja keras pemerintah daerah, aparat keamanan, kepala distrik, tokoh adat, serta seluruh pihak yang terlibat dalam proses perdamaian tersebut.
Agustinus mengingatkan bahwa Kwamki Narama harus menjadi wilayah damai dan tidak lagi dikenal sebagai tempat terjadinya pertumpahan darah.
“Pemerintah sedang membangun daerah ini. Jangan ada perang lagi. Mari sama-sama mendukung pembangunan dan menjaga kedamaian,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa masyarakat Papua tidak boleh terus kehilangan anggota keluarga akibat konflik yang sebenarnya dapat diselesaikan melalui musyawarah dan dialog.
“Pertumpahan darah harus dihentikan. Orang Papua jangan ada yang mati lagi. Cukup sampai hari ini,” katanya.
Hal senada disampaikan Wakil Ketua Komisi I DPR Papua Tengah Yohanes Kemong. Ia mengatakan seluruh pihak telah sepakat bahwa konflik di Kwamki Narama telah berakhir dan tidak boleh terulang kembali.
Menurut Yohanes, apabila di kemudian hari muncul persoalan baru, penyelesaiannya harus dilakukan melalui jalur hukum, pemerintah, dan dialog, bukan melalui aksi balas dendam atau kekerasan.
Sebagai putra daerah Kwamki Narama, Yohanes mengajak seluruh masyarakat menjaga komitmen perdamaian yang telah dibangun bersama demi masa depan generasi berikutnya.
Dengan berakhirnya konflik ini, masyarakat berharap Kwamki Narama dapat kembali menjadi wilayah yang aman, damai, dan fokus membangun kehidupan yang lebih baik bagi seluruh warganya.





