NABIRE – Situasi di Nabire lagi jadi sorotan! Sebanyak 800 aparat gabungan dari TNI, Polri, sampai Satpol PP disiagakan buat mengamankan aksi demo mahasiswa yang digelar hari ini.
Kapolres Nabire AKBP Samuel D. Tatiratu di Nabire, Senin, bilang pengerahan aparat gabungan dalam jumlah besar tersebut untuk mengantisipasi potensi anarkis saat demonstrasi berlangsung.
Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Aparat pengen memastikan aksi tetap aman dan nggak berubah jadi chaos. Soalnya, demo ini diprediksi bakal melibatkan banyak massa dan berpotensi memanas kalau nggak dijaga dengan baik.
Biar tetap kondusif, aparat ditempatkan di beberapa titik strategis—mulai dari kawasan Kali Harapan, Jepara II, Asrama Mahasiswa Puncak, sampai Pasar Karang dan Siriwini. Jadi, semua pergerakan massa bisa dipantau dengan maksimal.
Nah, aksi ini sendiri bukan tanpa alasan. Para mahasiswa turun ke jalan buat menyuarakan tuntutan terkait kasus penembakan warga sipil yang terjadi di Kampung Kemburu, Kabupaten Puncak, beberapa waktu lalu. Kasus ini memang lagi jadi perhatian serius banyak pihak.
Menariknya, pihak kepolisian nggak melarang aksi ini. Mereka tetap kasih ruang buat mahasiswa menyampaikan aspirasi, tapi dengan catatan: harus tertib, damai, dan nggak bikin gangguan buat masyarakat umum.
Bahkan, aparat juga nyiapin sekitar 15 truk buat ngangkut massa langsung ke Kantor DPR Papua Tengah, supaya aksi lebih terarah dan nggak berubah jadi konvoi keliling yang bisa bikin macet atau ricuh.
Di sisi lain, peserta aksi juga diimbau buat tetap menjaga sikap—nggak bawa benda berbahaya dan nggak pakai simbol-simbol yang bisa memicu konflik. Intinya, semua pihak diminta sama-sama jaga situasi tetap aman.
Singkatnya, ini bukan cuma soal demo biasa. Ini tentang suara mahasiswa, tentang keadilan, dan tentang bagaimana semua pihak berusaha menjaga agar semuanya tetap damai.





